
Pantau - Delegasi Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter, Ardiyansyah Djafar, menilai masa depan industri pariwisata Asia Pasifik akan ditentukan oleh kemampuan destinasi wisata membaca perubahan perilaku wisatawan global.
Pernyataan itu disampaikan Ardiyansyah usai mengikuti PATA Annual Summit 2026 yang berlangsung di Korea Selatan.
Menurutnya, persaingan sektor pariwisata kini tidak lagi hanya berfokus pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga kemampuan destinasi memahami pola perjalanan dan kebutuhan wisatawan yang terus berubah.
“Insight terbesar dari PATA Annual Summit 2026 adalah bahwa masa depan pariwisata Asia Pacific tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak mendatangkan wisatawan, tetapi siapa yang paling mampu membaca perubahan perilaku wisatawan,” kata Ardiyansyah dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).
Wisatawan Asia Pasifik Diproyeksi Capai 761 Juta pada 2028
Dalam forum tersebut, jumlah kunjungan wisatawan internasional di kawasan Asia Pasifik diproyeksikan mencapai 761,2 juta pada 2028.
Sementara sekitar 68,3 persen perjalanan masuk kawasan Asia Pasifik pada 2025 diperkirakan berasal dari perjalanan antarnegara di kawasan yang sama.
Forum itu juga membahas perubahan strategi pemasaran destinasi wisata akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta digitalisasi industri perjalanan.
Perusahaan teknologi pemasaran perjalanan Sojern menilai pemasaran destinasi wisata kini dituntut mampu menunjukkan dampak terukur dari strategi promosi yang dijalankan.
Indonesia Dinilai Harus Fokus pada Wisata Berkualitas
Ardiyansyah mengatakan perubahan tren tersebut relevan dengan kondisi pariwisata Indonesia yang mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025.
Selain itu, terdapat sekitar 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara selama periode yang sama.
Menurut dia, tantangan utama Indonesia saat ini bukan hanya meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga memperkuat kualitas pengalaman wisata yang autentik dan berkelanjutan.
“Tantangan saat ini bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kualitas pengalaman yang lebih autentik, digital-ready, berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tinggi, baik bagi wisatawan asing maupun domestik,” ujarnya.
Ia menilai penguatan pengalaman wisata berbasis teknologi dan keberlanjutan menjadi faktor penting agar pariwisata Indonesia mampu bersaing di kawasan Asia Pasifik.
- Penulis :
- Aditya Yohan





