HOME  ⁄  Geopolitik

Putin Bahas Usulan Transfer Uranium Iran ke Rusia dengan Xi Jinping

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Putin Bahas Usulan Transfer Uranium Iran ke Rusia dengan Xi Jinping
Foto: (Sumber : Arsip - Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. /ANTARA/Anadolu/py (Anadolu).)

Pantau - Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengungkapkan Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyampaikan usulan transfer uranium yang diperkaya milik Iran ke Rusia kepada Presiden China Xi Jinping.

Peskov mengatakan usulan tersebut perlu dibahas lebih lanjut oleh Teheran dan Washington.

“Teheran dan Washington harus membahas usulan Moskow untuk mentransfer uranium yang diperkaya Iran ke Rusia,” kata Peskov dalam konferensi pers di Moskow, Kamis (21/5/2026).

Menurut Peskov, Amerika Serikat hingga kini belum menerima usulan tersebut.

Putin dan Xi Bahas Iran dalam Pertemuan Tertutup

Peskov menjelaskan Putin membahas gagasan itu dengan Xi Jinping dalam pembicaraan tertutup saat jamuan minum teh.

“Mereka membahas Iran selama pertemuan di jamuan minum teh. Dia membagikannya,” ujar Peskov.

Namun, Kremlin menolak memberikan rincian lebih lanjut terkait isi pembicaraan tersebut.

“Justru karena itulah percakapan tersebut diadakan secara tertutup,” katanya.

Usulan transfer uranium Iran ke Rusia muncul di tengah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Teheran dan negosiasi dengan Amerika Serikat.

Kremlin Kritik Tekanan Amerika Serikat terhadap Kuba

Dalam kesempatan yang sama, Peskov juga menyoroti kebijakan blokade Amerika Serikat terhadap Kuba.

Ia menilai blokade tersebut memiliki dampak kemanusiaan yang besar bagi masyarakat sipil di Kuba.

“Blokade terhadap pulau itu sendiri belum pernah terjadi sebelumnya dan memiliki konsekuensi kemanusiaan yang dahsyat bagi rakyat biasa yang tinggal di sana,” ungkapnya.

Peskov juga mengkritik langkah Amerika Serikat yang menuduh mantan pemimpin Kuba Raul Castro.

“Kami percaya bahwa dalam keadaan apa pun metode seperti itu, yang berbatasan dengan metode kekerasan, tidak boleh diterapkan kepada para pemimpin negara tertinggi saat ini atau mantan pemimpin,” katanya.

Ia menegaskan Rusia menilai tekanan terhadap Kuba tidak dapat dibenarkan.

Penulis :
Aditya Yohan