HOME  ⁄  Geopolitik

IRGC Klaim 23 Kapal Melintasi Selat Hormuz di Bawah Pengawasan Iran

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IRGC Klaim 23 Kapal Melintasi Selat Hormuz di Bawah Pengawasan Iran
Foto: (Sumber : Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh perahu cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO ISNA/Morteza Akhoundi.)

Pantau - Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) menyatakan sebanyak 23 kapal melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir setelah memperoleh izin dari pasukan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan AL IRGC melalui media resmi Sepah News pada Rabu (27/5/2026).

Kapal yang melintas terdiri atas kapal tanker minyak, kapal kontainer, dan kapal komersial lainnya yang disebut melintasi jalur perairan strategis tersebut di bawah koordinasi dan perlindungan pasukan IRGC.

Iran Klaim Kendalikan Selat Hormuz Secara Ketat

AL IRGC menyebut Iran terus menjalankan kendali pintar secara berkelanjutan dan kuat di kawasan Selat Hormuz.

"Agresi dan niat jahat pasukan teroris AS merupakan penyebab utama ketidakamanan di Teluk Persia," demikian pernyataan AL IRGC.

Iran diketahui mulai memperketat pengawasan di Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026.

Langkah itu diambil setelah Iran melarang kapal milik maupun yang terafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel melintas secara aman di jalur tersebut.

Kebijakan tersebut muncul menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran.

Ketegangan Selat Hormuz Picu Gangguan Jalur Pelayaran

Selain pengawasan ketat Iran, Amerika Serikat juga disebut memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz.

Blokade tersebut menyebabkan kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran mengalami pembatasan saat melintasi jalur perairan itu.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak global dari kawasan Timur Tengah.

Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam beberapa bulan terakhir terus meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan internasional di Teluk Persia.

Penulis :
Ahmad Yusuf