HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Klaim Serang Pangkalan Udara AS di Kuwait sebagai Balasan Serangan Washington

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Iran Klaim Serang Pangkalan Udara AS di Kuwait sebagai Balasan Serangan Washington
Foto: (Sumber : Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa.)

 

Pantau - Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat di Kuwait sebagai balasan atas serangan udara Washington di dekat Bandara Bandar Abbas, Iran selatan.

Menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, serangan balasan itu terjadi pada Kamis (28/5) pukul 04.50 waktu setempat atau sekitar 08.20 WIB.

IRGC menyebut serangan tersebut dilakukan beberapa jam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara di sekitar kota pelabuhan Bandar Abbas menggunakan proyektil udara.

“Tanggapan ini adalah peringatan serius agar musuh tahu bahwa agresi tidak akan dibiarkan begitu saja, dan jika diulangi, respons kami akan lebih tegas,” kata IRGC.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak militer Amerika Serikat terkait klaim serangan tersebut.

AS Sebut Tindakan Bersifat Defensif

Sebelumnya, seorang pejabat AS mengatakan pasukan Amerika menembak jatuh empat drone Iran yang dianggap mengancam di sekitar Selat Hormuz.

Pejabat yang tidak disebutkan namanya itu juga menyebut AS menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang disebut tengah bersiap meluncurkan drone kelima.

“Tindakan-tindakan ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata,” ujar pejabat AS tersebut.

Komando Pusat AS atau CENTCOM juga mengonfirmasi serangkaian serangan sebelumnya di Iran selatan yang menargetkan lokasi peluncuran rudal dan kapal Iran yang diduga hendak memasang ranjau.

Iran kemudian mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “pelanggaran berat terhadap gencatan senjata.”

Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Teheran membalas serangan itu dengan rentetan drone dan rudal ke sejumlah target di kawasan serta menutup Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil tetap memberlakukan blokade terhadap kapal menuju dan dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz.

Penulis :
Aditya Yohan