
Pantau - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, menegaskan bahwa kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis perlu dinilai berdasarkan manfaat dan hasil konkret yang diperoleh bagi Indonesia, bukan semata-mata dari frekuensi perjalanan yang dilakukan.
Pernyataan tersebut disampaikan untuk menanggapi anggapan bahwa beberapa kunjungan Prabowo ke Prancis merupakan pemborosan anggaran negara.
Menurut Qodari, ukuran utama keberhasilan lawatan luar negeri adalah dampak yang dihasilkan bagi kepentingan nasional.
Qodari mengatakan, "Ya kembali lagi, bagaimana kemudian asas kemanfaatan yang dibawa itu juga harus dipertimbangkan atau diperhitungkan."
Ia menegaskan pemerintah meyakini hubungan yang dibangun melalui kunjungan tersebut memberikan manfaat besar bagi Indonesia.
Qodari mengatakan, "Kita yakin bahwa apa yang bisa diperoleh dari kunjungan ke Prancis itu memang betul-betul bisa besar dan signifikan."
Empat Kali Kunjungi Prancis Sejak Menjadi Presiden
Sejak menjabat Presiden Republik Indonesia, Prabowo telah melakukan empat kunjungan ke Prancis.
Kunjungan pertama berlangsung pada 14 Juli 2025 untuk menghadiri Parade Militer Hari Bastille di Paris.
Kunjungan kedua dilakukan pada 23 Januari 2026 dan diisi pembahasan penguatan hubungan bilateral bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Lawatan ketiga berlangsung pada 14 April 2026 dengan agenda pembahasan kerja sama strategis di bidang energi, pendidikan, komunikasi digital, dan investasi jangka panjang.
Kunjungan keempat dilakukan pada 28 Mei 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Hasilkan Kesepakatan Bernilai Rp61,25 Triliun
Dalam kunjungan terakhir tersebut, Indonesia dan Prancis menghasilkan empat kesepakatan komersial senilai 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp61,25 triliun.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam peluncuran France-Indonesia High Level Business Council yang berlangsung pada 28 Mei 2026.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menjelaskan bahwa peluncuran dewan bisnis tingkat tinggi tersebut disaksikan langsung oleh Prabowo dan Macron.
Pemerintah menilai hubungan yang semakin erat dengan Prancis berpotensi memberikan manfaat di bidang ekonomi, investasi, perdagangan, dan berbagai kerja sama strategis lainnya.
Qodari menegaskan bahwa keberhasilan kunjungan luar negeri seharusnya diukur dari hasil konkret yang diperoleh dan kontribusinya terhadap kepentingan nasional Indonesia.
- Penulis :
- Gerry Eka





