HOME  ⁄  Geopolitik

Marcos dan Rubio Bahas Keamanan Laut China Selatan, China Merespons dengan Patroli di Perairan Timur Taiwan

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Marcos dan Rubio Bahas Keamanan Laut China Selatan, China Merespons dengan Patroli di Perairan Timur Taiwan
Foto: Arsip - Foto udara memperlihatkan sejumlah kapal Penjaga Pantai China (CCG) mengikuti latihan di Laut China Selatan 12/5/2024 (sumber: Xinhua/Rao Bin)

Pantau - Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio melakukan pembicaraan melalui telepon pada Senin (1/6/2026) dengan fokus pada upaya menjaga stabilitas kawasan serta perdamaian dan keamanan di Laut China Selatan.

Menurut kantor Presiden Filipina, kedua pihak membahas prioritas ekonomi dan keamanan bilateral, termasuk kerja sama perdagangan, stabilitas kawasan, serta perkembangan situasi di Laut China Selatan.

Laut China Selatan merupakan kawasan kaya sumber daya alam yang menjadi wilayah sengketa sejumlah negara di Asia.

Ketegangan di kawasan tersebut terus berlangsung, terutama antara Filipina dan China yang kerap saling mengkritik terkait klaim maritim yang tumpang tindih.

Filipina sendiri merupakan salah satu sekutu militer tertua Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik dengan hubungan pertahanan yang didasarkan pada perjanjian pertahanan bersama yang telah berlangsung lama.

AS Tegaskan Dukungan untuk Koridor Ekonomi Luzon

Selain isu keamanan, Marcos dan Rubio juga membahas prioritas ekonomi regional serta penguatan kerja sama ekonomi bilateral antara Filipina dan Amerika Serikat.

Rubio kembali menegaskan komitmen Washington terhadap pengembangan Koridor Ekonomi Luzon.

Ia juga menyampaikan dukungan terhadap upaya mencari solusi atas berbagai tantangan energi di kawasan.

Koridor Ekonomi Luzon merupakan inisiatif kerja sama trilateral antara Amerika Serikat, Jepang, dan Filipina.

Program tersebut turut melibatkan Australia, Kanada, Denmark, Prancis, Italia, Korea Selatan, Swedia, dan Inggris sebagai negara mitra.

Inisiatif itu bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi bersama, menciptakan lapangan kerja, memperkuat konektivitas, mengembangkan sektor transportasi dan logistik, meningkatkan ketahanan energi, serta memperkuat infrastruktur digital.

Jepang dan Filipina Bahas Batas Maritim, China Melayangkan Protes

Secara terpisah, Penjaga Pantai China melakukan patroli penegakan hukum di perairan timur Taiwan pada hari yang sama.

Patroli tersebut disebut sebagai respons atas pengumuman Jepang dan Filipina mengenai pembicaraan penetapan batas maritim.

Sebelumnya, Marcos dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bertemu di Tokyo untuk membahas sejumlah isu strategis.

Dalam pertemuan itu, Jepang dan Filipina sepakat memulai negosiasi formal mengenai batas maritim, termasuk pembahasan zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan batas landas kontinen masing-masing negara.

Menanggapi langkah tersebut, Penjaga Pantai China menyatakan, "Kami mendesak Jepang dan Filipina segera menghentikan semua tindakan ilegal yang merusak kedaulatan, hak, dan kepentingan China," ungkapnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa isu klaim wilayah dan keamanan di Laut China Selatan masih menjadi salah satu tantangan strategis utama di kawasan Asia-Pasifik.

Penulis :
Arian Mesa