
Pantau - Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta mengusulkan agar Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dilibatkan dalam upaya dialog ASEAN dengan otoritas Myanmar guna membantu meredakan krisis yang masih berlangsung di negara tersebut.
Ramos-Horta menyampaikan usulan tersebut dalam acara Leadership Lecture yang diselenggarakan oleh Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) di Jakarta.
Ia menilai dialog dengan militer Myanmar membutuhkan figur yang memiliki posisi, pengalaman, dan tingkat otoritas yang setara dengan pihak yang diajak berunding.
Menurut Ramos-Horta, latar belakang SBY sebagai purnawirawan jenderal bintang empat berpotensi membuat pihak militer Myanmar lebih mendengarkan pesan yang disampaikan dalam proses dialog.
Ia menekankan bahwa menghadirkan mitra dialog yang memiliki tingkat pengalaman dan kewibawaan yang seimbang merupakan faktor penting dalam penyelesaian konflik.
Ramos-Horta berpendapat dialog tidak cukup hanya melibatkan diplomat junior ketika berhadapan dengan struktur kepemimpinan militer yang kuat.
Pengalaman Sierra Leone Jadi Dasar Pandangan
Ramos-Horta mengisahkan pengalamannya saat bertugas di Sierra Leone sebagai contoh pentingnya faktor prestise dan kesetaraan dalam proses dialog konflik.
Ia mengungkapkan bahwa para jenderal yang menjadi lawan bicaranya saat itu lebih memperhatikan dirinya dibandingkan diplomat yang mendampinginya.
Pengalaman tersebut menjadi dasar pandangannya bahwa posisi dan latar belakang seseorang dapat memengaruhi efektivitas komunikasi dalam proses perundingan.
Menurutnya, status SBY sebagai mantan jenderal bintang empat dapat memberikan pengaruh tersendiri dalam komunikasi dengan otoritas Myanmar.
Ia meyakini kehadiran SBY berpotensi membuat pihak militer Myanmar lebih terbuka terhadap proses dialog yang diupayakan ASEAN.
Keberhasilan Perdamaian Aceh Dinilai Menjadi Modal Penting
Selain latar belakang militernya, Ramos-Horta menilai pengalaman kepemimpinan SBY menjadi nilai tambah yang penting dalam upaya penyelesaian konflik.
Ia menyoroti keberhasilan SBY dalam menangani sejumlah konflik besar selama menjabat sebagai Presiden Indonesia.
Salah satu keberhasilan yang disebut adalah penyelesaian konflik Aceh yang berlangsung selama puluhan tahun sebelum berakhir melalui perjanjian damai di Helsinki pada 2005.
Ramos-Horta juga menyebut peran Jusuf Kalla dalam proses perdamaian tersebut.
Ia menilai keberhasilan perdamaian Aceh merupakan contoh penting kepemimpinan nasional dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan.
Ramos-Horta mengaku prihatin karena SBY dan Jusuf Kalla tidak memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian atas kontribusi mereka dalam mengakhiri konflik Aceh.
Menurutnya, meskipun Martti Ahtisaari menerima Nobel Perdamaian atas perannya sebagai mediator, keberhasilan perdamaian Aceh juga tidak terlepas dari kepemimpinan SBY dan Jusuf Kalla.
Dalam konteks Myanmar, Ramos-Horta menilai pengalaman menyelesaikan konflik serta kemampuan berkomunikasi dengan kalangan militer dapat menjadi modal penting apabila SBY dilibatkan dalam proses dialog.
Sementara itu, para pemimpin ASEAN dalam KTT ASEAN ke-48 telah menyatakan komitmen untuk terus mengupayakan konsensus terkait isu Myanmar.
ASEAN masih membahas langkah-langkah lanjutan guna membantu penyelesaian krisis politik dan konflik yang terjadi di Myanmar.
- Penulis :
- Arian Mesa





