HOME  ⁄  Geopolitik

Indonesia di Persimpangan Indo-Pasifik dan Eurasia, Peluang Baru di Tengah Pergeseran Tatanan Global

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Indonesia di Persimpangan Indo-Pasifik dan Eurasia, Peluang Baru di Tengah Pergeseran Tatanan Global
Foto: (Sumber: Ilustrasi AI - Bendera nasional RI dan Rusia. (ChatGPT Go/antons).)

Pantau - Perubahan tatanan global yang dipicu perang di Ukraina dan sanksi Barat terhadap Rusia mendorong pergeseran besar dalam perdagangan internasional, jalur logistik, dan distribusi energi dunia. Di tengah dinamika tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang strategis untuk memperkuat posisinya sebagai penghubung antara kawasan Indo-Pasifik dan Eurasia.

Sanksi terhadap Rusia tidak hanya berdampak pada aspek keamanan internasional, tetapi juga mengubah pola konektivitas ekonomi global. Rusia kini semakin aktif mencari mitra baru di Asia, Timur Tengah, dan negara-negara Global South untuk memperluas jaringan perdagangan dan kerja sama ekonomi.

Dalam kondisi tersebut, laut kembali menjadi ruang penting dalam politik dan ekonomi global. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di jalur perdagangan internasional, Indonesia dipandang memiliki posisi unik yang tidak hanya sebagai pengguna jalur laut, tetapi juga berpotensi menjadi simpul distribusi internasional.

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah pertemuan antara Agus Harimurti Yudhoyono dan Nikolai Patrushev di Moskow yang menghasilkan komitmen untuk memperdalam kerja sama maritim Indonesia dan Rusia.

Kerja sama tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi bagian dari jaringan industri maritim global yang lebih luas, tidak hanya sebagai pasar maupun lokasi produksi.

Eurasia saat ini berkembang menjadi kawasan ekonomi politik yang semakin dinamis. Arsitektur perdagangan baru di kawasan tersebut terbentuk melalui jalur utara Rusia, konektivitas Asia Tengah, serta jalur laut yang menghubungkan Timur Tengah dan Asia Timur.

Selama ini Indonesia lebih banyak terhubung dengan kawasan Indo-Pasifik. Namun, perkembangan hubungan dengan Eurasia membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memperluas jejaring ekonomi internasional.

Pembukaan hubungan yang lebih luas dengan Eurasia tidak dipandang sebagai perubahan poros geopolitik Indonesia. Langkah tersebut lebih mencerminkan strategi diversifikasi hubungan internasional yang dalam kajian hubungan internasional dikenal sebagai hedging.

Strategi tersebut menekankan pentingnya menjaga berbagai opsi kerja sama tetap terbuka tanpa harus menutup hubungan dengan mitra lain. Pendekatan ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap satu kekuatan global.

Namun, strategi tersebut memerlukan kapasitas institusional yang kuat, konsistensi kebijakan, dan kemampuan membaca risiko geopolitik. Tanpa pengelolaan yang tepat, diversifikasi mitra justru berpotensi menimbulkan fragmentasi kebijakan.

Kerja sama maritim Indonesia-Rusia berada di persimpangan antara kepentingan ekonomi dan geopolitik. Dalam konteks tersebut, kapal, jalur logistik, dan infrastruktur maritim tidak hanya berfungsi sebagai sarana perdagangan, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam persaingan global.

Rusia dalam beberapa tahun terakhir semakin aktif membangun jaringan ekonomi ke Asia seiring terbatasnya akses ke pasar Eropa. Di sisi lain, Indonesia tengah menjalankan agenda hilirisasi industri, transformasi ekonomi, dan pengembangan ekonomi biru.

Dalam konteks tersebut, kerja sama maritim dapat menjadi bagian dari pencarian model pertumbuhan ekonomi baru yang mendukung kepentingan nasional Indonesia.

Kajian ekonomi politik internasional menunjukkan bahwa posisi strategis suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan domestik, tetapi juga oleh posisinya dalam jaringan internasional, termasuk dengan siapa negara tersebut terhubung, melalui jalur apa hubungan dibangun, dan seberapa besar tingkat ketergantungannya.

Apabila Indonesia mampu terhubung dengan koridor logistik Eurasia, maka Indonesia berpotensi menjadi penghubung antara sistem Indo-Pasifik dan sistem Eurasia.

Namun peluang tersebut tidak terjadi secara otomatis. Faktor seperti infrastruktur, regulasi, kapasitas industri, dan stabilitas politik menjadi penentu utama keberhasilannya.

Dunia saat ini dinilai sedang bergerak menuju sistem multipolar dengan berbagai pusat kekuatan yang saling berinteraksi melalui beragam blok konektivitas ekonomi.

Dalam kondisi tersebut, negara yang mampu menjadi penghubung antarblok memiliki nilai strategis yang lebih tinggi. Indonesia memiliki modal geografis yang kuat untuk memainkan peran tersebut, tetapi modal tersebut harus didukung oleh kebijakan yang tepat.

Di sisi lain, menjaga kedaulatan ekonomi tetap menjadi tantangan penting. Ketergantungan internasional tidak dapat dihindari sepenuhnya, namun harus dikelola agar tidak berubah menjadi kerentanan nasional.

Kerja sama maritim dipandang dapat menjadi instrumen untuk memperkuat otonomi nasional, memperluas pilihan strategis, dan menjaga fleksibilitas kebijakan luar negeri Indonesia.

Tidak ada kerja sama internasional yang sepenuhnya netral dalam politik global. Karena itu, Indonesia perlu menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan dunia tanpa terlalu bergantung pada satu poros tertentu.

Pada akhirnya, tantangan terbesar Indonesia bukan menentukan di mana harus berdiri dalam persaingan geopolitik global, melainkan bagaimana menjaga ruang gerak yang luas dan fleksibel di tengah perubahan tatanan dunia yang terus berlangsung. Kerja sama maritim Indonesia-Rusia dipandang sebagai penambahan jejaring strategis yang nilainya akan semakin besar apabila mampu memperkuat kapasitas domestik dan daya saing nasional.

Penulis :
Gerry Eka