HOME  ⁄  Geopolitik

Jepang Sambut Kesepakatan Amerika Serikat dan Iran yang Diklaim Buka Jalan Akhiri Konflik dan Pulihkan Selat Hormuz

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Jepang Sambut Kesepakatan Amerika Serikat dan Iran yang Diklaim Buka Jalan Akhiri Konflik dan Pulihkan Selat Hormuz
Foto: Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada 10 Juni 2026 (sumber: japan.kantei.go.jp)

Pantau - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada Senin menyambut laporan mengenai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan menyebutnya sebagai langkah besar dalam meredakan konflik yang memicu ketidakpastian ekonomi global.

Takaichi menyampaikan apresiasi tersebut setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa telah tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Trump menyatakan bahwa kesepakatan itu akan dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).

Ia juga menyebut MoU tersebut diperkirakan akan ditandatangani pada Jumat mendatang.

Trump menambahkan bahwa kesepakatan tersebut akan membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama pasokan energi global setelah sebelumnya praktis tertutup akibat konflik.

Takaichi Sebut Kesepakatan Hasil Negosiasi Gigih

Melalui unggahan di platform media sosial X, Takaichi menulis bahwa Jepang “menyambut baik kesepakatan tersebut sebagai langkah besar”.

Dalam unggahan yang sama, ia mengungkapkan bahwa kesepakatan tersebut merupakan “hasil dari negosiasi yang gigih”.

Kabar mengenai kesepakatan itu muncul ketika Takaichi sedang menjalani kunjungan ke Eropa.

Dalam agenda kunjungan tersebut, Takaichi dijadwalkan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Evian-les-Bains, Prancis, yang dimulai pada Senin.

Jepang Berharap Implementasi MoU Berjalan Konsisten

Juru bicara utama pemerintah Jepang, Minoru Kihara, turut memberikan tanggapan dalam konferensi pers rutin mengenai perkembangan tersebut.

Kihara menyatakan bahwa Jepang berharap nota kesepahaman itu “diimplementasikan secara konsisten”.

Ia juga berharap implementasi tersebut akan “membantu mengurangi risiko bagi ekonomi Jepang maupun global dengan menjamin navigasi yang bebas dan aman” melalui Selat Hormuz.

Jepang selama ini diketahui memiliki keterbatasan sumber daya alam sehingga bergantung pada kawasan Timur Tengah untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya.

Penutupan Selat Hormuz sebelumnya memaksa pemerintah Jepang melakukan diversifikasi sumber pasokan energi dari negara-negara lain.

Pada Kamis sebelumnya, Takaichi menyampaikan bahwa Jepang telah memperoleh sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan pasokan minyak pada bulan Juli.

Ia menyebut volume pasokan alternatif tersebut setara dengan volume yang diperoleh pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penulis :
Shila Glorya