
Pantau - Pemerintah China menambah bantuan kemanusiaan darurat untuk Republik Demokratik Kongo (DRC), Uganda, dan Uni Afrika setelah jumlah kasus Ebola terkonfirmasi di DRC melampaui 1.000 kasus dengan 254 kematian sejak wabah diumumkan pada 15 Mei 2026.
China Kirim Tim Medis dan Perlengkapan Penanganan Wabah
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan negaranya terus berkomitmen membantu penanganan wabah Ebola melalui pengiriman tenaga medis, obat-obatan, dan perlengkapan penanggulangan epidemi.
"Kami memberikan bantuan kemanusiaan darurat kepada DRC dan Uni Afrika segera setelah penyakit itu menyerang. Kami mengirimkan para ahli medis serta obat-obatan yang sangat dibutuhkan dan perlengkapan penanggulangan epidemi ke DRC," ujar Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin.
Guo menjelaskan bahwa hampir seribu tenaga medis saat ini terlibat dalam upaya melawan Ebola bersama masyarakat Afrika.
"Saat ini, hampir seribu tenaga medis sedang berjuang melawan Ebola bersama masyarakat Afrika," ungkapnya.
Para ahli medis China yang tiba di Kinshasa pada 2 Juni langsung bekerja sama dengan otoritas kesehatan setempat untuk mempelajari kebutuhan lapangan serta memberikan layanan dan konsultasi medis.
"Mengingat parahnya wabah tersebut, pemerintah China telah memutuskan untuk memberikan bantuan kemanusiaan darurat tambahan kepada DRC, Uganda, dan Uni Afrika," kata Guo Jiakun.
Kasus Terus Bertambah dan Ancaman Meluas
Republik Demokratik Kongo melaporkan total 1.003 kasus Ebola terkonfirmasi dengan tingkat kematian mencapai 25,3 persen.
Menteri Kesehatan DRC Roger Kamba mengatakan upaya pengendalian wabah terus dilakukan di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.
Sedikitnya 100 pasien telah dinyatakan sembuh sementara 365 pasien lainnya masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika sebelumnya memperingatkan bahwa wabah saat ini berpotensi berkembang lebih buruk apabila penularan tidak segera dikendalikan.
Lembaga tersebut membandingkan ancaman wabah saat ini dengan epidemi Ebola Afrika Barat pada 2014 hingga 2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.
Guo menegaskan hubungan erat China dan Afrika menjadi dasar dukungan berkelanjutan dalam menghadapi krisis kesehatan tersebut.
"China dan Afrika selalu menjadi saudara dan mitra yang berbagi satu masa depan bersama dan selalu saling mendukung di saat-saat sulit. Selama bertahun-tahun, China telah memberikan bantuan yang kuat kepada Afrika dalam memerangi Ebola," ungkap Guo Jiakun.
Penelitian terbaru dari ilmuwan Uganda dan Kongo menyebut galur Ebola Bundibugyo yang saat ini beredar berasal dari penularan baru yang bersumber dari satwa liar.
Sementara itu, kekhawatiran penyebaran lintas negara meningkat setelah Israel melaporkan kasus suspek Ebola kedua yang melibatkan seorang warga yang baru kembali dari DRC dan kini menjalani isolasi sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





