
Pantau - Lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap berlangsung di kedua arah pada Jumat meskipun serangan terhadap kapal kontainer Ever Lovely sehari sebelumnya mendorong sejumlah pemilik kapal meninjau kembali rencana transit di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Serangan Picu Evaluasi Pelayaran
Serangan terhadap kapal Ever Lovely terjadi pada Kamis dan menjadi insiden pertama sejak tercapainya kesepakatan perdamaian sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Akibat insiden tersebut, sejumlah pemilik kapal dan kapten kapal menunda atau mengevaluasi kembali rencana pelayaran keluar dari kawasan Teluk.
Setidaknya satu perusahaan pelayaran berbasis di Asia meminta armadanya tetap berada di Teluk sambil menunggu hasil evaluasi lebih lanjut mengenai opsi transit.
Data pelacakan kapal menunjukkan insiden tersebut tidak menghentikan pemulihan bertahap lalu lintas di Selat Hormuz.
Dua kapal tanker bermuatan penuh terpantau berlayar keluar dari Teluk pada Jumat.
Empat kapal tanker minyak mentah super besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) dalam kondisi kosong terlihat memasuki Teluk melalui pantai Oman.
Rute pelayaran selatan dikelola oleh Oman dan dikoordinasikan oleh Amerika Serikat.
Lalu lintas keluar melalui rute Oman mencakup kapal tanker Aframax yang menuju India.
Sebuah kapal tanker kecil yang dikenai sanksi Amerika Serikat juga melintasi rute tersebut.
Sebuah VLCC bermuatan minyak mentah dari Uni Emirat Arab memasuki Selat Hormuz.
Sebuah kapal tanker produk bermuatan dari Uni Emirat Arab juga memasuki selat tersebut.
Dari arah sebaliknya, sebuah VLCC kosong yang menuju Basrah memasuki jalur pelayaran.
Tiga kapal lain yang terkait dengan Uni Emirat Arab juga memasuki jalur tersebut.
Sebuah kapal pengangkut gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) di lepas pantai Khor Fakkan terlihat mencoba melintasi Selat Hormuz.
Sejumlah kapal juga memilih menggunakan rute utara yang berada dekat wilayah Iran dan diakui oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Kapal yang menggunakan rute utara meliputi kapal tanker produk berbendera Korea Selatan, kapal tanker produk yang menuju Indonesia, serta sebuah kapal pengangkut curah.
Data Lalu Lintas dan Isu Pengelolaan Selat
Pengelolaan Selat Hormuz masih menjadi salah satu isu utama dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Amerika Serikat menyatakan Iran harus menjaga Selat Hormuz tetap bebas dari pungutan biaya jika ingin mencapai kesepakatan damai permanen.
Data Windward menunjukkan sebanyak 62 kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni.
Sebanyak 21 kapal memasuki selat dan 41 kapal keluar melalui jalur tersebut.
Tercatat lima pelayaran gelap atau dark transit, yang terdiri atas dua kapal masuk dan tiga kapal keluar.
Pelayaran gelap mengacu pada kapal yang beroperasi dengan visibilitas AIS terbatas atau tidak tersedia.
Sebanyak 26 dari 41 kapal yang keluar menggunakan koridor selatan.
Koridor utara tetap menjadi jalur utama bagi kapal yang memasuki Teluk dari arah Iran.
Dua VLCC sepanjang 333 meter meninggalkan koridor selatan hanya berselang satu menit.
Sebuah VLCC berbendera Korea Selatan yang tertahan di Teluk sejak Februari juga telah meninggalkan kawasan tersebut.
Kondisi tersebut menunjukkan antrean lalu lintas kapal yang sempat tertahan mulai berkurang.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memperingatkan bahwa penerapan sistem pungutan biaya dapat memicu negara lain menerapkan kebijakan serupa di jalur pelayaran strategis hingga menyebabkan "kekacauan."
Amerika Serikat juga mendesak Oman agar tidak membentuk mekanisme pungutan bersama Iran.
Sebelumnya, Oman dan Iran menyatakan akan membahas pengelolaan lalu lintas serta biaya terkait di Selat Hormuz.
Marco Rubio kemudian mengatakan Oman telah meyakinkan Amerika Serikat bahwa negara tersebut tidak mendukung penerapan pungutan biaya.
Sementara itu, kapal-kapal tanker LNG kosong mulai berkumpul di lepas pantai Qatar seiring persiapan peningkatan ekspor dari fasilitas Ras Laffan.
Ras Laffan merupakan salah satu pusat produksi LNG terbesar di dunia.
Setidaknya delapan kapal pengangkut LNG kosong terlihat meninggalkan fasilitas Ras Laffan.
Sebagian besar kapal tersebut telah melintasi Selat Hormuz dalam sepekan terakhir.
Satu kapal tanker LNG lainnya sedang menuju fasilitas Ras Laffan.
Dua kapal lainnya juga mendekati pintu masuk timur Selat Hormuz.
Penumpukan kapal tersebut menunjukkan Qatar bersiap meningkatkan pengiriman LNG sekaligus mengindikasikan lalu lintas maritim di Selat Hormuz secara bertahap kembali normal setelah mengalami gangguan selama beberapa bulan.
- Penulis :
- Shila Glorya





