
Pantau - Oman dilaporkan telah memberi tahu sejumlah negara Eropa mengenai kemungkinan pengenaan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz serta memperingatkan bahwa situasi di kawasan tersebut tidak akan kembali seperti sebelum konflik, menurut laporan Bloomberg.
Biaya Dikaitkan dengan Layanan Keselamatan Pelayaran
Laporan Bloomberg yang mengutip sumber terkait menyebut biaya tersebut kemungkinan dikenakan untuk layanan pendukung, seperti penanganan pencemaran (de-pollution) dan bantuan navigasi bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara Teluk Arab dilaporkan telah memprotes rencana Oman dan Iran untuk menerapkan sistem pungutan atau biaya di jalur pelayaran strategis tersebut.
Laporan itu juga menyebut belum ada kepastian apakah pembayaran tersebut akan bersifat wajib.
Oman saat ini dilaporkan tengah mengkaji sistem pengelolaan lalu lintas kapal yang diterapkan di sejumlah negara lain, termasuk Selat Malaka yang tidak mengenakan biaya pelayaran.
Iran Susun Kerangka Hukum Baru Bersama Oman
Iran menyatakan sedang bekerja sama dengan Oman untuk menyusun kerangka hukum baru terkait pelayaran di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai kondisi kawasan tidak akan kembali seperti sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pemerintah Iran berpendapat biaya yang direncanakan bukan merupakan pungutan tol, melainkan pembayaran atas layanan yang menjamin keselamatan lalu lintas kapal.
Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Pada 18 Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani memorandum secara jarak jauh yang menandai berakhirnya konflik militer serta menetapkan jadwal pencabutan blokade angkatan laut oleh Amerika Serikat dan pemulihan pengiriman melalui Selat Hormuz.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





