
Pantau - Penandatanganan perjanjian kerangka kerja yang dimediasi Amerika Serikat antara Lebanon dan Israel di Washington memunculkan harapan sekaligus keraguan di kalangan warga Lebanon selatan yang masih mengungsi akibat konflik, dengan banyak di antara mereka menanti kepastian untuk kembali ke rumah dan memulai kembali kehidupan.
Warga Menanti Kepulangan dan Rekonstruksi
Kesepakatan kerangka kerja ditandatangani pada akhir putaran perundingan tingkat duta besar di Washington DC pada Jumat, 26 Juni 2026.
Kesepakatan tersebut kembali menegaskan implementasi gencatan senjata yang masih rapuh antara Lebanon dan Israel.
Saat penandatanganan disiarkan melalui televisi, Abu Ali Jalal Awada hanya memikirkan rumahnya di Kota Khiam, Lebanon selatan, yang terpaksa ditinggalkan akibat konflik.
Awada dan keluarganya kini tinggal di sebuah apartemen sederhana di Lebanon selatan setelah mengungsi.
Ia mengungkapkan, "Apakah penderitaan kami benar-benar telah berakhir?"
Ia kembali bertanya, "Akankah semua pihak mematuhi kesepakatan ini, atau justru akan muncul perselisihan dalam pelaksanaannya?"
Bagi Awada, kesepakatan tersebut bukan sekadar dokumen politik, melainkan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan yang telah lama ditinggalkan.
Harapan Awada mewakili harapan ribuan warga Lebanon selatan yang masih mengungsi.
Banyak warga berharap diplomasi mampu memulihkan keamanan, memungkinkan keluarga kembali ke rumah masing-masing, serta menghidupkan kembali komunitas yang terdampak konflik.
Meski demikian, banyak warga kini lebih memperhatikan bagaimana kesepakatan akan diterapkan di lapangan daripada seremoni penandatanganannya.
Wilayah perbatasan Lebanon selatan masih menghadapi kerusakan berat pada rumah, jalan, sekolah, jaringan air, dan jaringan listrik.
Kawasan Kfar Kila, Adaisseh, dan Mays al-Jabal juga masih dipenuhi reruntuhan.
Infrastruktur yang rusak serta layanan publik yang terbatas masih menghambat kepulangan para pengungsi.
Hazem Farhat, pengungsi asal Dibbine yang kini tinggal di Ain Qenia, mengungkapkan, "Apa yang kami inginkan sederhana."
Ia melanjutkan, "Kami ingin kembali ke rumah dan tanah kami. Kami berharap kesepakatan ini dapat mewujudkannya dan memulai proses rekonstruksi yang nyata agar kami bisa membangun kembali kehidupan dan menjamin masa depan anak-anak kami."
Keraguan Tetap Muncul di Tengah Ketegangan
Pengungsi lain, Salwa Hamid, mengaku berhati-hati dalam menyikapi optimisme terhadap kesepakatan tersebut.
Salwa mengungkapkan, "Kami sudah berkali-kali mendengar tentang berbagai kesepakatan. Yang penting saat ini adalah melihat perubahan nyata di lapangan, bukan sekadar janji."
Kekhawatiran warga kembali muncul setelah terjadi serangan baru pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), drone Israel menyerang persimpangan di Nabatieh al-Fawqa.
Drone lain juga menjatuhkan granat kejut di dekat pinggiran Kota Kfar Tebnit.
Banyak keluarga menilai kepulangan ke rumah juga berarti memulihkan mata pencaharian mereka.
Petani yang mengungsi ke Daher al-Ahmar, Jamal Dhib, mengungkapkan, "Perang tidak hanya merenggut rumah kami, tetapi juga sumber mata pencaharian kami."
Ia melanjutkan, "Tanah adalah kehidupan kami. Hanya jika tanah itu dipulihkan dan kembali bisa digarap, barulah kesepakatan apa pun akan benar-benar bisa mengubah kenyataan yang kami hadapi. Yang paling kami inginkan adalah kembali ke ladang kami."
Najla Hamdan, pengungsi yang kehilangan kedua putranya dalam konflik, mengungkapkan, "Tidak ada kesepakatan yang dapat menggantikan kehilangan anak-anak saya."
Ia melanjutkan, "Namun, saya berharap kesepakatan ini dapat mencegah keluarga lain mengalami penderitaan yang sama dan memungkinkan warga kembali ke desa mereka dengan aman."
Dosen universitas Hossam Moussa menilai masyarakat akan mengukur keberhasilan kesepakatan berdasarkan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Hossam mengungkapkan, "Orang-orang di wilayah selatan tidak lagi hanya melihat pernyataan-pernyataan politik."
Ia melanjutkan, "Mereka ingin melihat keluarga-keluarga yang mengungsi kembali ke rumah, proyek-proyek rekonstruksi mulai berjalan, sektor pertanian pulih, serta sekolah dan pusat layanan kesehatan kembali dibuka. Itulah tolok ukur yang akan mereka gunakan untuk menilai kesepakatan ini."
- Penulis :
- Gerry Eka





