HOME  ⁄  Geopolitik

Mark Rutte Dukung Serangan Baru AS ke Iran dan Tegaskan Tehran Tidak Boleh Miliki Kemampuan Nuklir

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Mark Rutte Dukung Serangan Baru AS ke Iran dan Tegaskan Tehran Tidak Boleh Miliki Kemampuan Nuklir
Foto: Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyampaikan sambutan pada Forum Industri Pertahanan, yang diselenggarakan sebagai bagian dari KTT Kepala Negara dan Pemerintahan NATO ke-36 di Ankara, Turki, pada 7 Juli 2026 (sumber: Dilara İrem Sancar/Anadolu Agency)

Pantau - Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap serangan baru Amerika Serikat ke Iran dengan menyebut langkah tersebut benar-benar diperlukan setelah menuduh Teheran melanggar gencatan senjata.

Mark Rutte Sebut Respons AS Diperlukan

Dalam keterangannya kepada wartawan di KTT NATO di Ankara, Mark Rutte mengatakan, "Saya pikir itu benar-benar diperlukan, karena ketika ada gencatan senjata dan Iran pada dasarnya melanggar gencatan senjata... Saya pikir sangat penting bahwa AS bereaksi dengan tegas."

Pada Selasa, 7 Juli 2026, militer Amerika Serikat melaporkan telah menyerang lebih dari 80 target di Iran.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan operasi militer tersebut merupakan tanggapan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran menuduh Amerika Serikat justru melanggar gencatan senjata.

Mark Rutte juga mengatakan negara-negara anggota NATO berencana menegaskan kembali dalam KTT bahwa Iran "tidak boleh pernah memiliki kemampuan nuklir."

Para pemimpin NATO juga diperkirakan kembali menyerukan pemulihan kebebasan navigasi secara penuh di Selat Hormuz.

Rutte Koreksi Pernyataan soal Arktik

Dalam KTT NATO di Ankara, Mark Rutte sempat salah berbicara ketika menyatakan Iran harus dicegah untuk mengakses Arktik.

Ia kemudian mengoreksi pernyataannya dengan menjelaskan bahwa yang sebenarnya dimaksud adalah Rusia dan China, bukan Iran.

Sebelumnya, pada Mei 2026, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan NATO memperluas program militerisasi di Kutub Utara.

Sergey Lavrov menilai NATO mengubah kawasan Kutub Utara menjadi zona konflik.

Penulis :
Leon Weldrick