
Pantau - Para diplomat tertinggi Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Korea Selatan (Korsel) pada Selasa (7/7) menyampaikan kekhawatiran atas uji coba peluncuran rudal balistik jarak jauh yang dilakukan China pada awal pekan ini dalam pertemuan trilateral yang digelar di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Ankara, Turki.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan Menteri Luar Negeri Korsel Cho Hyun membahas berbagai isu regional berdasarkan keterangan Kementerian Luar Negeri Jepang.
Bahas Stabilitas Kawasan dan Ancaman Korea Utara
Salah satu isu yang dibahas adalah upaya untuk mengubah status quo secara sepihak melalui kekerasan atau intimidasi.
Ketiga menteri kembali menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.
Kementerian Luar Negeri Jepang tidak secara langsung menyebut China dalam pernyataan resminya mengenai hasil pertemuan tersebut.
Pernyataan resmi hanya menyebutkan bahwa ketiga menteri membahas sejumlah isu yang berkaitan dengan Korea Utara.
Salah satu pembahasan mengenai Korea Utara adalah perlunya memberantas aktivitas siber "berbahaya" yang digunakan untuk mendanai program nuklir dan rudalnya.
Sebelum pertemuan trilateral yang berlangsung sekitar 30 menit dimulai, Motegi mengadakan pembicaraan bilateral secara terpisah dengan Rubio.
Motegi juga mengadakan pembicaraan bilateral secara terpisah dengan Cho.
Setelah pertemuan selesai, Motegi mengatakan Jepang ingin terus memperkuat kerja sama erat dengan para mitranya dalam menghadapi berbagai isu di kawasan Indo-Pasifik.
Sepakati Kerja Sama SMR dan Soroti Uji Coba Rudal China
Motegi, Rubio, dan Cho juga membahas penguatan kerja sama ketiga negara di bidang keamanan ekonomi.
Ketiga menteri menandatangani kesepakatan pembentukan kerangka kerja sama trilateral untuk mempromosikan penempatan Reaktor Modular Kecil (Small Modular Reactors/SMR) di berbagai negara.
Menurut Kementerian Luar Negeri Jepang, inisiatif tersebut bertujuan memastikan penerapan standar terbaik dalam keselamatan nuklir dan nonproliferasi nuklir.
Pada tahap awal pelaksanaannya, inisiatif tersebut akan difokuskan pada penguatan ketahanan energi di kawasan Indo-Pasifik.
Di sisi lain, uji coba rudal oleh Angkatan Laut China pada Senin (6/7) memicu kritik dari Australia, Jepang, dan sejumlah negara lainnya.
Rudal tersebut diluncurkan dari kapal selam nuklir milik China dengan membawa hulu ledak tiruan.
China menyatakan rudal tersebut "mendarat tepat di wilayah perairan yang ditentukan", ungkap pemerintah China.
Amerika Serikat menyatakan bahwa "penumpukan jumlah senjata nuklir China yang cepat dan tidak transparan merupakan kekhawatiran utama bagi kawasan dan dunia", menurut pernyataan pemerintah AS.
Amerika Serikat meyakini proyektil tak bersenjata yang jatuh di perairan Pasifik selatan setelah uji coba peluncuran pada Senin (6/7) merupakan rudal balistik antarbenua (Intercontinental Ballistic Missile/ICBM) yang memiliki kemampuan membawa senjata nuklir.
- Penulis :
- Leon Weldrick





