
Pantau - Pemerintah Pakistan mendesak Amerika Serikat dan Iran menahan diri dari tindakan yang dapat merusak perdamaian dan stabilitas regional di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.
Pakistan Serukan Dialog dan Diplomasi
Kementerian Luar Negeri Pakistan menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya eskalasi konflik serta menegaskan bahwa situasi tersebut tidak menguntungkan pihak mana pun.
"Konflik yang kembali memanas bukan keuntungan bagi siapa pun," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan pada Rabu (8/7).
Pemerintah Pakistan juga menyerukan seluruh pihak untuk menghindari langkah yang dapat memperburuk situasi keamanan kawasan.
“Tidak ada alternatif selain keterlibatan, dialog, dan diplomasi yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan bersama perdamaian di kawasan ini," ungkap Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Islamabad turut meminta Amerika Serikat dan Iran tetap menjunjung komitmen dalam Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang disepakati pada 17 Juni untuk mengakhiri konflik militer.
Pakistan Siap Menjadi Mediator
Pakistan menyatakan kesiapan untuk terus berperan sebagai mediator damai dalam upaya meredakan ketegangan antara kedua negara.
Ketegangan kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim meluncurkan serangan rudal dan drone ke 85 lokasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.
Serangan tersebut disebut sebagai respons atas operasi militer Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang mengklaim menghantam lebih dari 80 target di Iran setelah insiden penyerangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya tidak percaya perang dengan Iran akan kembali terjadi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





