
Pantau - Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan dalam babak baru eskalasi konflik, setelah AS menghantam lebih dari 80 target di Iran dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membalas dengan menyerang 85 situs militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Serangan Balasan Perburuk Ketegangan
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan gelombang baru serangan terhadap Iran dilakukan pada Selasa (7/7/2026) malam waktu setempat dengan menyasar lebih dari 80 target.
Media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan ledakan baru terjadi di Pulau Qeshm dan beberapa ledakan juga terdengar di Pulau Kharg.
Komando militer gabungan tertinggi Iran menyatakan angkatan bersenjatanya akan memberikan "respons yang menghancurkan" terhadap serangan AS dan tidak akan membiarkan campur tangan Washington dalam pengelolaan Selat Hormuz.
Press TV juga melaporkan ledakan besar mengguncang Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, sementara sejumlah ledakan terdengar di Bahrain yang diikuti pembunyian sirene oleh kementerian dalam negeri setempat.
Iran Tuding AS Langgar Kesepakatan
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran serius terhadap nota kesepahaman yang telah disepakati.
"Era perundungan dan pemerasan sudah berakhir. Hal itu tidak akan membawa hasil apa pun," tulisnya dalam unggahan di platform X.
Sebelumnya, CENTCOM menyatakan serangan terhadap Iran dilakukan setelah tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz diserang.
Serangan terhadap tiga kapal tanker minyak tersebut juga mendorong Kantor Pengawasan Aset Asing (Office of Foreign Assets Control/OFAC) di bawah Departemen Keuangan AS mencabut lisensi yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak asal Iran hingga 21 Agustus.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





