HOME  ⁄  Geopolitik

Presiden dan Menteri Luar Negeri Finlandia Menolak Klaim Donald Trump atas Greenland

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Presiden dan Menteri Luar Negeri Finlandia Menolak Klaim Donald Trump atas Greenland
Foto: (Sumber :Pemandangan di dekat Nuuk, Greenland, sebuah daerah otonom milik Denmark, dipotret pada 8 Februari 2026. (ANTARA/Xinhua/Li Ying).)

Pantau - Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Menteri Luar Negeri Finlandia Elina Valtonen menolak klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan Greenland seharusnya berada di bawah kendali AS, serta menegaskan bahwa urusan wilayah tersebut merupakan kewenangan Denmark dan Greenland, Rabu (8/7/2026).

Finlandia Tegaskan Kewenangan Denmark atas Greenland

Penolakan itu disampaikan setelah Trump pada Selasa (7/7/2026) mengatakan Greenland "seharusnya dikendalikan oleh AS, bukan Denmark" menjelang pertemuan bilateral dengan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan di sela Konferensi Tingkat Tinggi NATO di Ankara.

Stubb mengatakan, "urusan yang berkaitan dengan Greenland sepenuhnya berada di tangan Denmark."

Valtonen juga menolak klaim Trump dan menegaskan dukungan penuh Finlandia terhadap integritas teritorial Denmark.

Ia menyatakan isu tersebut seharusnya diselesaikan melalui mekanisme pertahanan dan keamanan yang telah ada, bukan melalui klaim teritorial.

Soroti Keamanan Kawasan Arktika

Valtonen menjelaskan Denmark dan Amerika Serikat saat ini sedang menjalin komunikasi mengenai kemungkinan perluasan pengaturan pertahanan bersama di kawasan Arktika.

Ia menambahkan NATO juga tengah memperkuat keamanan di kawasan Arktika yang mencakup Greenland sebagai salah satu wilayah strategis.

Valtonen mengatakan, "Kami di Finlandia sangat memahami bahwa kawasan Arktika jauh lebih luas daripada sekadar Greenland. Mari kita fokus pada kedua proses tersebut. Hasilnya nanti akan baik dan memadai, termasuk bagi Donald Trump."

Greenland merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark, sementara pernyataan berulang Trump mengenai kendali AS atas pulau tersebut kembali memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Eropa serta memunculkan perdebatan mengenai keamanan Arktika, kedaulatan, dan kohesi NATO.

Penulis :
Aditya Yohan