HOME  ⁄  Geopolitik

Militer AS Kembali Berlakukan Blokade Laut di Selat Hormuz, Kapal Tujuan Iran Jadi Sasaran

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Militer AS Kembali Berlakukan Blokade Laut di Selat Hormuz, Kapal Tujuan Iran Jadi Sasaran
Foto: (Sumber :Kapal kargo komersial dan kapal tanker minyak mentah yang sedang berlabuh di Teluk Oman, di lepas pantai Muscat, Oman, pada 21 Juni 2026, saat mereka bersiap untuk melintasi Selat Hormuz yang krusial. ANTARA/Shady Alassar - Anadolu Agency / pri..)

Pantau - Militer Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju dan dari pelabuhan serta wilayah pesisir Iran mulai Selasa (14/7) pukul 16.00 Eastern Time atau Rabu (15/7) pukul 03.00 WIB.

CENTCOM Umumkan Blokade Kembali Diberlakukan

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan kebijakan tersebut mulai berlaku melalui pernyataan resmi yang diunggah di platform media sosial X.

"Pasukan AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang transit menuju dan dari pelabuhan serta wilayah pesisir Iran pada hari ini pukul 16.00 Eastern Time (Rabu, pukul 03.00 WIB)," ungkap CENTCOM.

CENTCOM juga menyebut kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah tetap berada dalam kondisi siaga.

"Saat ini, terdapat lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut AS dan ratusan pesawat militer yang beroperasi di seluruh Timur Tengah. Pasukan Amerika tetap waspada, mematikan, dan siap siaga," imbuh CENTCOM.

Serangan Tambahan dan Pernyataan Trump

Menurut CENTCOM, pasukan AS melancarkan gelombang serangan tambahan terhadap target-target Iran sekitar satu jam sebelum blokade kembali diberlakukan di Selat Hormuz.

Sebelumnya pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi seluruh lalu lintas kapal, kecuali bagi Iran.

"Oleh karena itu, kami akan memberlakukan Blokade PENUH, namun hanya terhadap Kapal-Kapal yang berlayar menuju dan dari pelabuhan Iran, atau membawa kargo Iran," ujar Trump dalam unggahan di Truth Social.

Kebijakan tersebut diumumkan di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah, dengan Selat Hormuz tetap menjadi jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi dunia.

Penulis :
Aditya Yohan