
Pantau - Meksiko dan Kanada menegaskan tetap menjadi anggota Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) meski Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap lembaga peradilan internasional tersebut.
Meksiko dan Kanada Pertahankan Komitmen terhadap ICC
Pernyataan tersebut disampaikan diplomat senior kedua negara pada Jumat (17/7), beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengumumkan kampanye untuk melemahkan ICC secara bertahap.
Rubio menuduh ICC telah melakukan penyalahgunaan wewenang dan mengancam kepentingan Amerika Serikat serta komunitas internasional.
Wakil Menteri Luar Negeri Meksiko Roberto Velasco mengungkapkan, "Tentu saja Meksiko akan terus berpartisipasi dalam semua badan multilateral yang kami ikuti."
Velasco mengatakan Meksiko berperan dalam pembentukan sistem multilateral yang ada dan tetap menaruh kepercayaan terhadap mekanisme tersebut.
Meski demikian, ia menilai sejumlah lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), masih memerlukan reformasi untuk menekan peningkatan pengeluaran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand menegaskan negaranya tidak memiliki rencana untuk keluar dari ICC.
Menurut Anand, isu terkait ICC tidak seharusnya dipolitisasi karena Kanada merupakan salah satu negara pendiri lembaga tersebut.
AS dan Rusia Miliki Sikap Berbeda terhadap ICC
Pada Februari 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang menjatuhkan sanksi terhadap ICC atas langkah lembaga tersebut terhadap Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel.
Sanksi itu mencakup pembekuan aset, pemblokiran properti, serta larangan masuk ke Amerika Serikat bagi pejabat ICC beserta anggota keluarga mereka.
Sementara itu, Rusia menggambarkan ICC sebagai salah satu instrumen yang digunakan untuk mempertahankan praktik neokolonial dan melindungi para pemimpin negara Barat dari pertanggungjawaban hukum.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





