
Pantau - Rusia meminta Amerika Serikat menjelaskan implementasi kesepahaman yang dicapai dalam pertemuan Presiden Vladimir Putin dan Presiden Donald Trump di Alaska sebelum membahas usulan baru terkait perdamaian Ukraina.
Rusia Soroti Kesepahaman Pertemuan Alaska
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyampaikan permintaan tersebut saat konferensi pers di Rzhev, wilayah Tver, Rusia, Senin (27/7/2026), sebagai tanggapan atas pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio yang menyebut usulan dalam pertemuan Alaska telah gagal.
Zakharova mengungkapkan, "Muncul sebuah pertanyaan logis, yang entah mengapa belum dijawab oleh Departemen Luar Negeri AS maupun pihak lain mana pun; siapa sebenarnya yang gagal menerapkan 'Formula Anchorage', yang sebenarnya bisa saja membawa perdamaian?"
Ia menegaskan Rusia tetap siap mencari penyelesaian diplomatik atas konflik yang berlangsung, namun proses tersebut harus didasarkan pada kesepahaman yang telah dicapai, termasuk dalam pertemuan di Alaska.
Zakharova mengatakan, "Namun, sejujurnya, karena Anda mengutip pernyataan Bapak Rubio ini, mungkin pertama-tama sebelum membahas hal baru, mungkin masih tepat untuk mengklarifikasi hal-hal lama, khususnya dalam diskusi-diskusi yang telah berlangsung mengenai gagasan-gagasan terkait."
Sebelumnya, Rubio menyatakan kesepakatan damai tidak mungkin tercapai tanpa persetujuan kedua belah pihak dan menilai usulan yang dibahas dalam pertemuan Alaska tidak dapat diterima oleh Ukraina.
Ia mengungkapkan, "Kesepakatan damai tidak mungkin tercapai kecuali kedua belah pihak menyetujuinya dan pihak Ukraina tidak akan menyetujuinya. Sehingga, itulah sebabnya upaya tersebut gagal. Jadi, kita harus mencari usulan dan gagasan baru, karena jelas usulan itu tidak dapat diterima di Ukraina pada saat itu dan saya rasa usulan itu juga tidak dapat diterima oleh mereka sekarang. Bahkan, kemungkinan besar usulan itu kini semakin tidak dapat diterima oleh mereka."
Rubio menambahkan, "Jika kesempatan itu muncul dan kondisinya tepat, maka kami siap memainkan peran tersebut secara positif."
Rusia Soroti Sanksi dan Stabilitas Pasar Energi
Zakharova juga menyatakan upaya melemahkan kerja sama energi Rusia melalui sanksi di tengah ketegangan di Selat Hormuz berpotensi memperburuk ketidakstabilan pasar energi global serta memicu fragmentasi perdagangan, inflasi, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Ia menambahkan Rusia akan segera mengumumkan langkah balasan terhadap paket sanksi ke-21 Uni Eropa serta terus memantau perkembangan kebijakan keamanan Jepang yang berkaitan dengan unsur nuklir karena dinilai dapat memengaruhi stabilitas kawasan Timur Jauh.
- Penulis :
- Aditya Yohan



