HOME  ⁄  Geopolitik

Strategi Baru Senjata Nuklir Amerika Serikat Dinilai Berpotensi Meningkatkan Risiko Perang Nuklir

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Strategi Baru Senjata Nuklir Amerika Serikat Dinilai Berpotensi Meningkatkan Risiko Perang Nuklir
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Kapal selam nuklir USS Florida milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang gambarnya diambil pada 11 April 2006. (ANTARA/HO-United States Navy/aa).)

Pantau - Asosiasi Pengendalian Senjata (Arms Control Association/ACA) menilai rencana Amerika Serikat memperluas penggunaan senjata nuklir taktis dalam konflik berpotensi memperumit hubungan dengan negara-negara pemilik senjata nuklir lain serta meningkatkan risiko perang nuklir.

Pernyataan itu disampaikan ACA pada Kamis (6/8) setelah NBC News melaporkan Departemen Pertahanan Amerika Serikat tengah menyusun strategi nuklir baru yang berfokus pada kemungkinan penggunaan senjata taktis jarak pendek jika terjadi konflik dengan Rusia atau China.

ACA menyatakan, "Kami meyakini perubahan strategi yang diusulkan tersebut, jika menghapuskan persyaratan 'pembatasan kerusakan', maka dapat mengurangi risiko-risiko tertentu."

ACA melanjutkan, "Namun, penambahan opsi 'serangan nuklir taktis' akan memperumit hubungan pencegahan nuklir yang rapuh antara Amerika Serikat dengan negara-negara lain dengan senjata nuklir, serta meningkatkan risiko perang nuklir."

ACA menilai penolakan terhadap konsep perluasan penggunaan senjata nuklir taktis dapat menghilangkan dasar bagi Amerika Serikat untuk memperluas persenjataan sebagai respons terhadap peningkatan kekuatan militer Rusia maupun China.

Asosiasi tersebut juga menyebut langkah itu dapat membuka peluang negosiasi mengenai pengurangan senjata.

ACA menegaskan pihaknya menentang penguatan peran senjata nuklir taktis karena pengembangan senjata baru dapat dipersepsikan sebagai kesiapan untuk melancarkan serangan pertama.

Presiden Rusia Vladimir Putin dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat Tucker Carlson pada 2024 mengatakan Rusia tidak berniat menyerang negara-negara anggota NATO.

Putin menyebut langkah tersebut tidak masuk akal.

Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia terus menyoroti peningkatan kekuatan militer NATO di dekat perbatasan baratnya.

Kremlin menyatakan Rusia tidak mengancam pihak mana pun, tetapi tidak akan mengabaikan tindakan yang dinilai berpotensi membahayakan kepentingannya.

Penulis :
Aditya Yohan