HOME  ⁄  Geopolitik

WHO Peringatkan Wabah Ebola di RD Kongo Menjadi Terbesar Kedua Sepanjang Sejarah

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

WHO Peringatkan Wabah Ebola di RD Kongo Menjadi Terbesar Kedua Sepanjang Sejarah
Foto: Arsip foto - Petugas medis mengenakan pakaian dan perlengkapan pelindung lengkap sebelum memeriksa pasien di Pusat Perawatan Ebola yang dikelola oleh Doctors Without Borders (MSF) di distrik Munigi, Goma, Republik Demokratik Kongo, pada 2 Juni 2026 (sumber: Anadolu Agency)

Pantau - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menjadi wabah Ebola terbesar kedua sepanjang sejarah pencatatan setelah jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 4.449 dengan 2.061 kematian.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan penyebaran Ebola kali ini berlangsung lebih cepat dibandingkan wabah-wabah sebelumnya.

"Ini sudah menjadi wabah Ebola terbesar kedua sepanjang sejarah, dan penyebarannya lebih cepat daripada wabah Ebola mana pun sebelumnya. Dengan laju saat ini, wabah ini diperkirakan akan melampaui wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014 hingga 2016," ungkap Tedros.

Data yang dirilis otoritas kesehatan masyarakat RD Kongo pada Rabu, 12 Agustus 2026, menunjukkan tingkat kematian kasus secara keseluruhan mencapai 46,3 persen.

Sebanyak 716 pasien masih menjalani isolasi atau mendapatkan perawatan di rumah sakit, sementara 886 orang yang terinfeksi telah dinyatakan pulih.

Ituri Menjadi Pusat Penularan Ebola

Sekitar 90 persen dari seluruh kasus Ebola terkonfirmasi dilaporkan terjadi di Provinsi Ituri, yang juga mencatat sekitar 80 persen dari seluruh kematian akibat wabah tersebut.

Penularan secara berkelanjutan masih berlangsung di Ituri sehingga provinsi tersebut menjadi wilayah utama penyebaran wabah Ebola di RD Kongo.

Tedros menjelaskan virus telah menyebar cukup lama sebelum wabah berhasil terdeteksi sehingga upaya penanggulangan saat ini masih berusaha mengejar penyebarannya.

"Wabah tersebut memulai penyebaran jauh lebih awal. Wabah ini masih jauh di depan kami, dan kami sedang berupaya untuk mengejarnya," kata Tedros.

Menurut Tedros, sebagian besar kematian akibat Ebola masih terjadi di tengah masyarakat dan bukan di pusat-pusat perawatan.

Banyak kasus juga ditemukan pada orang-orang yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar kontak yang diketahui petugas kesehatan.

Kondisi tersebut mengindikasikan masih terdapat rantai penularan Ebola yang belum berhasil diidentifikasi oleh otoritas kesehatan.

"Selama kita belum mengetahui dan memutus setiap rantai penularan, kita tidak akan bisa menghentikan wabah ini," tegas Tedros.

Virus Diduga Beredar Sebelum Wabah Diumumkan

Wabah Ebola di RD Kongo disebabkan oleh virus Ebola Bundibugyo dan secara resmi diumumkan pemerintah pada 15 Mei 2026.

Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO Chikwe Ihekweazu mengatakan hasil penyelidikan menunjukkan virus kemungkinan telah beredar selama dua hingga tiga bulan sebelum wabah terdeteksi dan diumumkan secara resmi.

Meski demikian, waktu pasti dimulainya penularan Ebola tersebut masih dalam penyelidikan.

Perkembangan wabah berlangsung cepat karena pada 2 Juni 2026 jumlah kasus yang tercatat baru melampaui 1.000 dengan 246 kematian di seluruh RD Kongo.

Lonjakan menjadi 4.449 kasus terkonfirmasi dan 2.061 kematian membuat WHO menilai wabah tersebut sebagai wabah Ebola terbesar kedua sepanjang sejarah pencatatan.

Penulis :
Shila Glorya
Editor :
Tria Dianti