
Pantau - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan risiko penyebaran virus Bourbon di Amerika Serikat masih rendah meski telah mengetahui adanya laporan kasus infeksi terbaru di Negara Bagian New York.
WHO Nilai Risiko Kesehatan Masyarakat Masih Rendah
Juru Bicara Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO) Sebastian Oliel mengatakan bukti yang ada saat ini belum menunjukkan penularan virus Bourbon secara meluas di masyarakat.
"Saat ini, bukti yang ada tidak menunjukkan adanya penularan yang meluas di masyarakat. Risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan bagi populasi umum tampaknya rendah, mengingat jumlah kasus yang dilaporkan sangat sedikit," ungkap Oliel.
Ia menjelaskan penyakit akibat virus Bourbon merupakan infeksi yang sangat langka dan ditularkan melalui gigitan kutu.
Virus Bourbon pertama kali teridentifikasi di Amerika Serikat pada 2014.
Kasus Pertama Terdeteksi di New York
Pada 1 Agustus 2026, Fox News melaporkan kasus pertama infeksi virus Bourbon yang langka terdeteksi di Negara Bagian New York.
Hingga kini belum tersedia vaksin untuk mencegah infeksi virus Bourbon.
Gejala infeksi virus Bourbon meliputi demam, tubuh lemas, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam.
Para dokter masih menghadapi kesulitan dalam mendiagnosis penyakit tersebut karena belum tersedia tes khusus untuk mendeteksi virus Bourbon.
- Penulis :
- Aditya Yohan



