HOME  ⁄  Geopolitik

Sejarawan Singapura Desak Dunia Bersatu Ungkap Sejarah Kelam Unit 731 Jepang

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Sejarawan Singapura Desak Dunia Bersatu Ungkap Sejarah Kelam Unit 731 Jepang
Foto: (Sumber :Sejarawan Singapura Lim Shao Bin meninjau materi di rumahnya di Singapura, 31 Juli 2026. (Xinhua/Then Chih Wey).)

Pantau - Sejarawan Singapura Lim Shao Bin mendorong kerja sama internasional yang lebih kuat untuk mengungkap catatan sejarah Unit 731 dan jaringan perang biologis Tentara Kekaisaran Jepang yang beroperasi di sejumlah negara Asia selama Perang Dunia II.

Lim menilai masih banyak dokumen dan bukti mengenai aktivitas perang biologis Jepang yang belum terungkap meski lebih dari 80 tahun telah berlalu.

"Lebih dari 80 tahun telah berlalu, dan baru sekarang kita mulai menyadari betapa banyak hal yang masih belum diungkapkan Jepang kepada kita," ungkap Lim dalam wawancara dengan Xinhua.

Menurut dia, pemerintah dan kalangan akademisi dari berbagai negara perlu bekerja sama untuk membuka lebih banyak arsip sekaligus mengembangkan penelitian lintas disiplin mengenai jaringan tersebut.

Unit 9420 Beroperasi di Asia Tenggara

Sejak 1980-an, Lim mengumpulkan dokumen Jepang pada masa perang yang diperolehnya dari toko buku bekas dan arsip pemerintah di Jepang.

Dalam satu dekade terakhir, penelitiannya berfokus pada Unit 9420, unit perang biologis Tentara Kekaisaran Jepang yang beroperasi di Asia Tenggara dan memiliki hubungan dengan Unit 731 di Harbin.

Unit 9420 disebut memiliki jaringan yang mencakup wilayah yang kini menjadi Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Myanmar dengan markas di Singapura.

Menurut Lim, Unit 9420 "membangun seluruh lini produksi bom kuman di Singapura dan wilayah yang sekarang menjadi Malaysia."

Proses tersebut mencakup pembudidayaan sayuran untuk pakan tikus, peternakan tikus untuk menghasilkan kutu, hingga infeksi kutu menggunakan bakteri penyebab pes sebelum dimasukkan ke dalam bom kaca dan dikirim ke medan perang.

"Militer Jepang datang ke Asia Tenggara karena iklimnya ideal," ujar Lim.

Para peneliti Jepang ketika itu menyimpulkan kutu berkembang biak paling efektif pada suhu 27 hingga 30 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan sekitar 90 persen.

Sejumlah temuan Lim kemudian dituangkan dalam buku Oka 9420 Unit, Japanese South Army BW Troop yang ditulis bersama cendekiawan China Wang Xuan dan diterbitkan pada 2025.

Kesaksian Tawanan Perang Munculkan Petunjuk Baru

Penelitian mengenai jaringan perang biologis Jepang mendapat petunjuk baru setelah ditemukan kesaksian mantan tawanan perang W. B. Williams yang tersimpan di Arsip Nasional Inggris.

Williams yang ditangkap di Singapura pada Februari 1942 menulis bahwa dirinya bersama banyak tawanan lainnya mendapatkan vaksinasi dan inokulasi, sementara sampel darah mereka juga diambil.

Dalam kesaksiannya, Williams menyebut "sebuah tabung kaca dimasukkan ke dalam saluran anus."

Beberapa hari kemudian, sejumlah tawanan termasuk Williams dilaporkan mengalami sakit kepala hebat, diare, disentri, dan gangguan pada perut.

Menurut kesaksian Williams, prosedur serupa dilakukan tiga kali selama tiga tahun di sejumlah kamp dan setiap tindakan diikuti munculnya gejala yang sama.

"Jika itu bukan eksperimen, saya tidak tahu harus menyebutnya apa lagi," tulis Williams.

"Sebelumnya, kami belum menemukan catatan yang menunjukkan bahwa warga negara Inggris juga menjadi subjek eksperimen manusia," kata Lim.

Lim sebelumnya juga mencatat 17 tawanan perang Inggris di Singapura terjangkit tifus semak atau scrub typhus pada Juni 1944 dan tiga orang di antaranya meninggal dunia.

Ia menyebut penyakit tersebut ketika itu bukan penyakit endemik di Singapura, sedangkan laporan medis Unit 9420 mencatat dokter militer berhasil mengisolasi patogen terkait dari tikus liar dan membawanya ke "Syonan-to", nama yang digunakan Jepang untuk Singapura selama pendudukan.

"Penyakit itu bukan berasal dari sini," kata Lim.

"Penyakit itu dibawa ke sini," lanjutnya.

Lim Desak Pemerintah Buka Lebih Banyak Arsip

Lim juga menyoroti keberadaan sekitar 8.000 preparat patologi yang dilaporkan diserahkan Unit 731 kepada Amerika Serikat setelah Jepang menyerah.

Menurut dia, materi tersebut tidak pernah diungkapkan kepada publik dan tidak ada proses hukum terkait pertanggungjawaban perang terhadap anggota unit tersebut.

"Kerja sama internasional sangatlah penting," tegas Lim.

Ia menilai koordinasi pemerintah dan lembaga penelitian diperlukan untuk mendorong negara-negara seperti Jepang dan Amerika Serikat membuka lebih banyak dokumen arsip.

"Jika hanya peneliti atau universitas secara individu yang meminta pengungkapan informasi tersebut, akan sangat sulit untuk mencapai kemajuan," imbuhnya.

Lim menambahkan penelitian mengenai dokumen Unit 731 dan jaringan afiliasinya juga membutuhkan keterlibatan pakar dari berbagai disiplin karena sejumlah bukti sejarah sulit ditafsirkan tanpa keahlian khusus.

"Jika tidak memiliki spesialis di bidang tersebut, hampir mustahil untuk menafsirkannya," ujarnya terkait daftar inventaris bahan kimia dari Unit 731 ke Unit 9420 yang ditulis menggunakan huruf katakana Jepang.

"Kita membutuhkan keterlibatan dari berbagai bidang jika ingin mengungkap kejahatan bersejarah ini secara menyeluruh," tegasnya.

Pada Juni 2026, Channel NewsAsia merilis film dokumenter Inside Unit 731: Japan's Secret Human Experiments yang mengangkat keterkaitan Singapura dengan program perang biologis Jepang.

"Banyak orang mengira Unit 731 hanya berkaitan dengan China," katanya.

"Kini, setelah lembaga penyiaran Singapura mengungkap sejarah ini, para penonton, termasuk banyak orang di Eropa dan Amerika Utara, mulai menyadari bahwa cakupannya jauh lebih luas."

Lim menilai pengungkapan sejarah Unit 731 dan unit afiliasinya penting bukan hanya untuk merekonstruksi peristiwa masa lalu, tetapi juga memahami tanda-tanda awal yang dapat digunakan untuk mencegah tragedi serupa.

"Komunitas internasional harus tetap waspada," katanya.

"Perlu ada mekanisme pengawasan yang lebih efektif terhadap negara-negara bekas agresor untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali."

Penulis :
Aditya Yohan