
Pantau - Ketidakpuasan sejumlah negara Teluk terhadap Amerika Serikat (AS) dilaporkan meningkat di tengah kekhawatiran bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump belum mampu mencapai penyelesaian diplomatik untuk mengakhiri konflik berkepanjangan dengan Iran.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain disebut semakin kritis terhadap pemerintahan Trump setelah berbulan-bulan menghadapi dampak konflik serta serangan rudal dan pesawat nirawak Iran maupun kelompok yang didukungnya.
"Trump memulai perang ini, dan kami yang harus menanggung akibatnya," kata seorang pejabat negara Teluk yang meminta namanya dirahasiakan kepada The Washington Post.
Pejabat tersebut mengatakan kemarahan terhadap AS berada pada titik tertinggi sejak AS dan Israel menyerang Iran pada Februari 2026.
Keberadaan Pangkalan Militer AS Mulai Dipertanyakan
Sejumlah negara Teluk mulai mempertanyakan manfaat keberadaan pangkalan militer besar AS di wilayah mereka, menurut laporan The Washington Post yang mengutip pejabat Arab dan Barat.
Seorang diplomat Barat di kawasan tersebut menilai perkembangan itu belum menunjukkan perubahan signifikan dalam sentimen negara-negara Teluk terhadap AS karena keberadaan pasukan Washington sejak sebelum konflik juga tidak selalu disambut antusias.
"Keberadaan mereka lebih dianggap sebagai kejahatan yang diperlukan," kata diplomat tersebut.
"Kini, kebutuhan terhadap keberadaan mereka mulai dipertanyakan," lanjutnya.
Kekhawatiran meningkat setelah Trump berulang kali mengancam tindakan lanjutan terhadap Iran sebelum menarik kembali ancaman dengan alasan terdapat kemajuan dalam perundingan diplomatik.
Washington dan Teheran hingga kini dilaporkan belum mencapai kesepakatan final untuk mengakhiri konflik.
Seorang pejabat Gedung Putih membantah penilaian mengenai memburuknya hubungan dengan negara-negara Teluk dan menyatakan Trump "memiliki hubungan yang luar biasa dengan seluruh mitra kami di Teluk".
Pejabat tersebut juga mengatakan Washington terus berkomunikasi secara rutin dengan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk Persia sejak konflik dimulai.
Negara Teluk Masih Bergantung pada Dukungan Keamanan AS
Negara-negara Teluk mengambil sikap berbeda terhadap konflik karena sebagian pada awalnya memandang kemenangan cepat AS atas Iran berpotensi memberikan keuntungan bagi kawasan.
Kekhawatiran kemudian meningkat setelah konflik berlangsung tanpa penyelesaian yang jelas.
Meski ketegangan meningkat, negara-negara Teluk masih bergantung pada Washington untuk mendapatkan dukungan keamanan berupa peralatan militer, amunisi, dan intelijen.
Iran dan Oman juga telah melakukan perundingan mengenai rute pelayaran aman melalui Selat Hormuz selama tiga bulan terakhir.
Teheran menyatakan pemulihan penuh keamanan dan pelayaran komersial secara normal di kawasan tersebut bergantung pada berakhirnya tindakan militer AS.
- Penulis :
- Gerry Eka



