
Pantau - Sejumlah perempuan di Herat, Afghanistan barat, menjadikan pekerjaan dan kegiatan seni sebagai sarana memperoleh penghasilan sekaligus membantu mengatasi depresi dan persoalan psikologis akibat terlalu lama berdiam diri di rumah.
Quraish Malikzada menjadi salah satu perempuan yang mengelola pusat pelatihan seni rupa dan toko di Arg-e-Hera, benteng bersejarah berusia lebih dari 2.000 tahun di Kota Herat.
"Saya memiliki penghasilan yang cukup. Para pengunjung, termasuk warga asing, sering membeli produk saya, dan bahkan pengunjung dari Kabul dan kota Mazar-i-Sharif di bagian utara membeli barang-barang kami," ujar Malikzada.
Malikzada yang merawat tiga anaknya dengan penyakit kronis telah melatih 40 perempuan dan anak perempuan selama enam tahun terakhir.
Sebanyak 15 perempuan yang pernah dilatih Malikzada kini menjalankan usaha sendiri di luar benteng untuk menghidupi diri dan keluarga mereka.
Seni Menjadi Sarana Pemulihan
Malikzada menghasilkan berbagai karya mulai dari lukisan, seni miniatur, hingga kaligrafi dan menggambarkan pekerjaannya sebagai "seni yang penuh kegembiraan".
"Ini seni yang menyenangkan karena kita berkarya dengan lukisan dan warna. Orang-orang menyukainya, dan kami merasa puas dengan karya kami serta hasilnya," kata Malikzada.
Perajin lainnya, Samya Suliman Khil, juga menilai kegiatan seni dapat membuka peluang kerja sekaligus menjadi sarana pemulihan bagi perempuan.
Suliman Khil yang menjabat sebagai ketua Naiko Cultural and Artistic Institution mengatakan lembaganya memiliki 170 peserta yang siap lulus.
"Saat ini, kami memiliki 170 murid yang siap lulus, dan kami berencana untuk menerima 300 anak perempuan lagi dan melatih mereka dalam waktu dekat," ujar Suliman Khil.
"Beberapa perempuan yang mengalami depresi di rumah pulih setelah bergabung dengan kami di galeri dan mulai bekerja di sini," ujar Suliman Khil.
Para peserta di lembaga tersebut mendapatkan pelatihan menjahit, menyulam, seni miniatur, serta kaligrafi pada media kayu dan kaca.
"Anak-anak perempuan dari berbagai latar belakang dan kelompok usia, termasuk mereka yang tidak dapat melanjutkan pendidikan universitas dan bahkan beberapa guru yang menderita depresi, telah bergabung dengan lembaga kami. Naiko menyambut mereka layaknya seorang ibu," imbuh Suliman Khil.
Bekerja Kurangi Rasa Terisolasi
Jurnalis perempuan Susan Nuri mengatakan berdiam diri di rumah tanpa aktivitas merupakan kondisi yang sulit bagi perempuan yang sebelumnya terbiasa bekerja di luar.
"Sangat sulit bagi seorang anak perempuan yang terbiasa bekerja di luar untuk berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa-apa. Bagi saya, tinggal di rumah itu membosankan karena hal itu membuat Anda kian terisolasi dan merasa tertekan. Itulah sebabnya saya lebih memilih untuk bekerja," ujar Nuri.
Nuri yang bekerja di sebuah stasiun radio lokal di Herat mengaku mendapat semangat ketika program yang dibawakannya memperoleh dukungan pendengar.
"Untungnya, program radio saya memiliki banyak pendengar, dan mereka memberikan semangat kepada kami," ujarnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



