
Pantau - Menteri Luar Negeri Otoritas Taliban Amir Khan Muttaqi menyatakan pemerintahannya tengah berupaya menormalisasi hubungan Afghanistan dengan Amerika Serikat (AS) dengan mengedepankan kepentingan bersama dan rasa saling menghormati.
Pernyataan tersebut disampaikan Muttaqi dalam wawancara eksklusif bersama Kyodo News pada Rabu (26/8).
Muttaqi mengatakan pihaknya tengah “berupaya untuk menormalisasi hubungan” antara Afghanistan dan Amerika Serikat.
Dalam upaya tersebut, Muttaqi mendesak Pemerintah AS untuk tidak lagi menggunakan pendekatan konfrontatif terhadap Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban.
Menurut Muttaqi, Afghanistan dan Amerika Serikat memiliki peluang membangun hubungan bilateral yang didasarkan pada kepentingan kedua negara.
Kedua negara dapat menjalin hubungan berlandaskan "rasa saling menghormati dan kepentingan bersama", ungkap Muttaqi.
Taliban Dorong Hubungan Diplomatik Sebelum Pengakuan Formal
Pernyataan mengenai normalisasi hubungan itu muncul ketika Pemerintah AS masih mengkhawatirkan situasi keamanan di Afghanistan, termasuk kemungkinan negara tersebut kembali menjadi pusat terorisme global.
Pada 31 Agustus mendatang, penarikan penuh pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan akan memasuki peringatan lima tahun.
Pasukan AS ditarik sepenuhnya dari negara Asia Selatan tersebut setelah Taliban kembali mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021.
Muttaqi mengklaim pemerintahan Taliban telah berhasil menciptakan keamanan dan stabilitas di Afghanistan sejak kembali berkuasa.
Berdasarkan klaim tersebut, ia meminta Amerika Serikat mempertimbangkan kembali sikap politiknya terhadap pemerintahan Taliban.
Hingga saat ini, Rusia menjadi satu-satunya negara yang secara resmi mengakui pemerintahan sementara Taliban.
Namun, Muttaqi menyatakan pengakuan formal dari negara-negara lain bukan menjadi prioritas utama pemerintahannya saat ini.
Mendapatkan pengakuan formal dari dunia internasional merupakan "urusan nomor dua", kata Muttaqi.
Menurut dia, Taliban lebih memprioritaskan pembangunan hubungan diplomatik dan kerja sama praktis dengan masyarakat internasional sebelum mengejar pengakuan formal.
Di sisi lain, pemerintahan Taliban masih menghadapi kritik tajam masyarakat internasional, terutama terkait kebijakan terhadap pendidikan anak perempuan.
Otoritas Taliban melarang anak perempuan mendapatkan pendidikan di atas tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Muttaqi tidak memberikan kepastian mengenai kapan anak-anak perempuan Afghanistan akan kembali diizinkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Hubungan dengan Jepang dan Rusia Turut Disorot
Dalam wawancara tersebut, Muttaqi turut membahas hubungan bilateral Afghanistan dengan Jepang yang ia gambarkan sebagai hubungan "bersejarah dan dekat".
Namun, hubungan kedua negara menghadapi persoalan setelah Kedutaan Besar Afghanistan di Tokyo menghentikan operasinya pada Januari akibat perbedaan pandangan mengenai penerimaan diplomat baru.
Muttaqi mendorong langkah konkret untuk memulihkan layanan Kedutaan Besar Afghanistan di Tokyo sekaligus mempromosikan Afghanistan sebagai negara tujuan investasi.
Selain Jepang, Muttaqi membahas pakta kerja sama teknis militer yang ditandatangani Afghanistan dengan Rusia pada Mei lalu.
Menurut dia, kerja sama tersebut ditujukan untuk kepentingan teknis berupa perbaikan dan pemeliharaan persenjataan buatan Rusia.
Kerja sama tersebut "bukanlah aliansi militer untuk melawan negara tertentu", tegas Muttaqi.
Ketika ditanya mengenai konflik Rusia dan Ukraina, Muttaqi memilih tidak memberikan komentar.
Taliban Pilih Dialog dalam Sengketa dengan Pakistan
Muttaqi juga menyinggung hubungan Afghanistan dengan Pakistan sebagai salah satu negara tetangganya.
Dalam menghadapi perselisihan dengan Pakistan, ia menyatakan Taliban lebih mengedepankan dialog dibandingkan pendekatan konfrontatif.
Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintahan Taliban memperluas hubungan diplomatik dan kerja sama praktis dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Jepang, sembari mempertahankan hubungan dengan Rusia.
- Penulis :
- Leon Weldrick




