
Pantau - Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan kesepakatan nuklir dengan Iran belum tentu terwujud sehingga Washington mungkin harus mengandalkan penghancuran kemampuan nuklir Teheran untuk mencegah pengembangan senjata nuklir.
Pernyataan tersebut disampaikan Wright dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu (6/9/2026) di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
“Mungkin tidak ada kesepakatan nuklir,” kata Wright.
“Mungkin caranya hanya dengan menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya. Kesepakatan itu mungkin menunggu pemerintahan berikutnya di Iran. Kami benar-benar tidak tahu,” lanjutnya.
AS Soroti Kemampuan Nuklir dan Rudal Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya berulang kali mengeklaim kepemimpinan Iran telah berubah secara mendasar sejak serangan AS-Israel dimulai pada akhir Februari meskipun sistem pemerintahan negara tersebut tetap bertahan di bawah pemimpin tertinggi yang baru.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan pemboman berkelanjutan sebagai strategi mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, Wright mengatakan langkah tersebut tampaknya diperlukan.
“Anda harus menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya,” katanya.
“Mereka membangun infrastruktur rudal besar untuk memproduksi rudal, yang sekarang Anda lihat mereka tembakkan, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk membuat lebih banyak rudal,” lanjut Wright.
Iran dan Amerika Serikat sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni 2026 melalui mediasi Pakistan dan Qatar yang memuat langkah menuju penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penyelesaian pembatasan ekonomi.
Namun, kedua negara sejak saat itu saling menuduh gagal menjalankan komitmen dalam nota kesepahaman tersebut.
Selat Hormuz Tetap Menjadi Titik Rawan
Wright juga menyoroti arus minyak melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur strategis bagi pengiriman energi global.
Menurut Wright, rata-rata arus minyak selama tujuh hari melalui Selat Hormuz telah mencapai lebih dari 9 juta barel per hari dan menjadi rata-rata tujuh hari tertinggi yang pernah tercatat.
Dengan memperhitungkan pengiriman melalui jaringan pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, total arus minyak yang keluar dari kawasan tersebut disebut mencapai sekitar 13 juta hingga 14 juta barel per hari.
Selat Hormuz masih menjadi titik rawan karena Washington dan Teheran menyampaikan klaim berbeda mengenai keterbukaan jalur pelayaran, pihak yang mengendalikannya, serta tingkat keamanan bagi kapal komersial.
Pejabat Amerika Serikat menyatakan jalur pelayaran internasional telah dibersihkan dari ranjau Iran dan puluhan kapal melintas setiap hari.
Sementara itu, Iran bersikeras Selat Hormuz masih berada di bawah kendalinya serta belum terbuka atau aman dari ancaman ranjau.
- Penulis :
- Aditya Yohan




