
Pantau - Indonesia didorong tidak hanya menjadi pasar teknologi rendah karbon, tetapi juga mengambil peran dalam produksi, inovasi, dan penciptaan nilai tambah seiring berlangsungnya transisi hijau di kawasan Asia-Pasifik.
Dorongan tersebut disampaikan Ketua Umum komunitas Anak Muda Amankan Indonesia (AMAN) sekaligus Chief Commissioner AMAN Group Indonesia James Karnadi dalam High-Level Meeting on APEC Technologies Empower Low Carbon Action (TELCA) di Shenzhen, China, pada 2-4 September 2026.
"Ekonomi hijau bukan sekadar agenda lingkungan. Ini adalah fondasi pertumbuhan ekonomi baru. Indonesia harus memastikan bahwa kita tidak hanya menjadi pengguna atau pasar teknologi, tetapi menjadi bagian penting dari proses produksi, inovasi, dan penciptaan nilai tambah," kata James.
Pertemuan TELCA merupakan bagian dari rangkaian APEC 2026 serta digelar dalam kerangka Kemitraan Kebijakan APEC tentang Sains, Teknologi, dan Inovasi atau PPSTI.
Forum tersebut diikuti lebih dari 40 peserta dari 18 ekonomi anggota APEC yang terdiri atas pembuat kebijakan, akademisi, organisasi internasional, dan sektor swasta.
Transisi Hijau Dinilai Bisa Menentukan Arah Investasi
James menilai transisi menuju teknologi rendah karbon tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan komitmen lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap investasi, industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, dan daya saing ekonomi Asia-Pasifik.
Menurut dia, kesenjangan akses terhadap teknologi hijau berpotensi menciptakan ketimpangan ekonomi baru apabila teknologi, pembiayaan, dan kapasitas industri hanya terkonsentrasi di negara-negara yang memiliki modal serta infrastruktur memadai.
Karena itu, kerja sama antaranggota APEC didorong tidak berhenti pada perdagangan dan penjualan produk teknologi, tetapi juga mencakup transfer pengetahuan, penguatan sumber daya manusia, pembangunan industri lokal, serta akses pembiayaan kompetitif.
"Negara berkembang tidak membutuhkan teknologi yang hanya dapat dibeli. Kita membutuhkan kemitraan yang memungkinkan teknologi tersebut dioperasikan, disesuaikan, diproduksi, dan pada akhirnya dikembangkan bersama," ungkap James.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi penghubung antara negara pengembang teknologi dan pasar negara berkembang yang membutuhkan solusi rendah karbon dengan harga terjangkau.
Investasi Didorong Perkuat Industri Nasional
James mendorong Indonesia memanfaatkan momentum transisi hijau untuk memperkuat struktur industri nasional dengan mengarahkan investasi pada penciptaan nilai tambah, pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan kapasitas produksi dan teknologi dalam negeri.
"Target kita bukan hanya peningkatan investasi, tetapi investasi yang memperkuat kedaulatan industri dan meningkatkan daya tawar Indonesia dalam rantai nilai global," tambah James.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam berbagai sektor masa depan, mulai dari energi bersih, manufaktur hijau, kendaraan listrik, hingga teknologi digital.
Hasil pembahasan TELCA akan dirumuskan dalam APEC Technologies Empowering Low-Carbon Action Project Report yang memuat peta jalan dan rekomendasi mengenai aksesibilitas teknologi rendah karbon serta model kemitraan lintas ekonomi.
Hasil tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti melalui kerangka APEC Policy Partnership on Science, Technology and Innovation.
Negara-negara anggota APEC menyumbang sekitar 60 persen emisi karbon dioksida global sehingga kawasan Asia-Pasifik menghadapi tekanan untuk menjalankan transisi hijau dan menekan emisi sambil mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
- Penulis :
- Aditya Yohan




