HOME  ⁄  Geopolitik

IRGC Klaim Teknologi Canggih AS Tak Mampu Lolos dari Pengawasan Iran di Selat Hormuz

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IRGC Klaim Teknologi Canggih AS Tak Mampu Lolos dari Pengawasan Iran di Selat Hormuz
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Serangan rudal oleh Iran. ANTARA/IRNA/IRGC.)

Pantau - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan tidak ada teknologi canggih, termasuk milik Amerika Serikat (AS), yang mampu menghindari sistem pengawasan Iran di Selat Hormuz setelah pasukannya mengklaim menemukan dan menyita drone bawah laut militer AS.

Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi menyampaikan pernyataan tersebut pada Selasa (8/9), setelah penemuan perangkat bawah laut di pintu masuk Selat Hormuz.

"Penemuan drone bawah laut militer AS yang canggih pada pagi hari menunjukkan bahwa tidak ada teknologi canggih yang dapat melewati lapisan sistem pengawasan kami di Selat Hormuz," kata Mohebbi seperti dikutip IRGC.

IRGC sebelumnya menyatakan telah menyita drone bawah laut AS jenis Dive-LD dan memublikasikan foto perangkat tersebut.

Ketegangan AS-Iran Belum Berakhir

Klaim penyitaan drone tersebut muncul di tengah konflik antara Iran dan AS yang hingga kini belum sepenuhnya berakhir.

Pasukan AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangkaian serangan.

Teheran dan Washington pada pertengahan Juni menandatangani memorandum yang ditujukan untuk menghentikan permusuhan antara kedua pihak.

Namun, AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan tidak lama setelah memorandum tersebut ditandatangani.

Washington Tingkatkan Tekanan Ekonomi

Konflik antara AS dan Iran masih berlangsung dengan permusuhan yang sesekali kembali terjadi meskipun sebelumnya terdapat upaya menghentikan pertikaian.

Washington juga memilih meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik melalui tambahan tekanan finansial terhadap Teheran.

Perkembangan terbaru di Selat Hormuz menambah rangkaian ketegangan kedua negara di jalur perairan strategis tersebut.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026