
Pantau - Para perajin Palestina di Pasar Harjeh, Ramallah, Tepi Barat, mempertahankan ingatan tentang tanah air melalui kerajinan tradisional seperti sulaman Tatreez, plakat nama daerah, hingga ukiran kayu zaitun di tengah meningkatnya kekerasan di wilayah tersebut.
Pasar musiman yang dibuka setiap Jumat selama musim panas itu kembali beroperasi setelah ditutup selama dua tahun menyusul pecahnya perang terbaru Israel-Hamas pada Oktober 2023.
Pasar Harjeh biasanya menampung sekitar 100 stan dan ditujukan untuk mendukung para perajin serta usaha kecil Palestina.
Salah seorang perajin bordir asal Yerusalem Timur, Ayyam Tamimi, telah menggeluti seni bordir tradisional Palestina selama lebih dari 20 tahun.
"Ini Tatreez," ujar Tamimi pelan saat memperlihatkan kain sulamannya.
Tatreez merupakan seni bordir tusuk silang tradisional Palestina yang masuk dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO pada 2021.
"Ini adalah warisan yang diwariskan oleh leluhur kami," ujarnya.
Tamimi mengatakan perempuan Palestina menggunakan Tatreez untuk mempertahankan ingatan mengenai desa dan tempat asal mereka.
"Kami perempuan Palestina menyulam lanskap desa-desa kami yang diduduki ke dalam kain. Desa-desa itu tidak bertahan. Namun, kain sulaman ini bertahan. Kami mungkin tidak dapat mewarisi tanah leluhur kami, tetapi setiap kali melihat Tatreez, di rumah, dalam upacara pernikahan, maupun di toko, saya teringat dari mana akar kami berasal," katanya.
Nama Kota Palestina Diabadikan dalam Kerajinan
Kerajinan di Pasar Harjeh tidak hanya berupa Tatreez karena sejumlah pedagang juga menjual plakat bertuliskan nama-nama tempat di Palestina.
Sameh Abdullah, salah seorang pedagang, menawarkan plakat bertuliskan "Jaffa" dalam bahasa Arab dan Inggris, kota yang ditinggalkan kakek-neneknya ketika mengungsi ke al-Bireh pada 1948.
Pedagang lainnya, Mohammad Omar, menempuh perjalanan lebih dari empat jam dari Tulkarm di Tepi Barat bagian utara karena harus melewati sejumlah pos pemeriksaan militer Israel.
Perjalanan tersebut dalam kondisi normal hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit.
"Barang dagangan saya sering ditahan di pos pemeriksaan Israel," katanya pelan.
Omar telah menjual plakat berisi nama-nama tempat di Palestina selama sekitar 10 tahun dan biasanya mengirim barang dagangannya terlebih dahulu menggunakan truk pemasok ketika bepergian ke kota lain.
"Mereka takut," katanya sambil memelankan suara.
"Takut kami akan mengingat nama setiap kota yang diduduki, setiap bukit, setiap sungai," lanjutnya.
Kayu Zaitun Menjadi Pengingat Tanah Air
Perajin lain, Aida Al-Shawa, memanfaatkan kayu zaitun untuk membuat magnet kulkas yang diukir dengan nama-nama tempat.
"Prajurit dan pemukim Israel menebang dan membakar pohon-pohon zaitun di seluruh Tepi Barat. Karena itu, kami berpegang erat pada setiap batang pohon dan mencurahkan hati kami ke dalam pekerjaan ini. Kami ingin dunia melihat bahwa tanah ini adalah milik kami," katanya.
Pohon zaitun memiliki peran penting bagi warga Palestina karena selain menjadi sumber penghidupan, tanaman tersebut juga dipandang sebagai simbol kampung halaman dan perlawanan.
Al-Shawa mengukir nama-nama tempat pada kayu tersebut dan menjadikannya benda yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
"Dengan begitu, setiap pagi ketika orang membuka kulkas untuk mengambil susu, mereka akan melihat sekilas tanah air yang mungkin tidak akan pernah dapat mereka datangi kembali," ujarnya sambil tersenyum.
Aktivitas Pasar Harjeh berlangsung ketika kekerasan di Tepi Barat meningkat, dengan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mendokumentasikan lebih dari 1.300 serangan pemukim yang menyebabkan korban atau kerusakan properti dalam tujuh bulan pertama 2026.
- Penulis :
- Aditya Yohan




