
Pantau - Pemerintah China merespons usulan sejumlah tokoh industri kecerdasan buatan (AI) untuk memperlambat pengembangan teknologi AI tingkat lanjut dengan menyerukan pengembangan yang terbuka, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan bersama.
"AI merupakan teknologi yang sangat penting bagi kesejahteraan seluruh umat manusia. Semua pihak harus bersama-sama mendorong pengembangan AI yang terbuka dan inklusif demi kebaikan dan kepentingan bersama," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin (14/9/2026).
Pernyataan tersebut menanggapi pandangan sejumlah tokoh teknologi, termasuk CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, dan pendiri Tesla serta SpaceX Elon Musk mengenai perlunya memperlambat pengembangan AI tingkat lanjut.
"Tindakan menyebarkan ketakutan, konfrontasi, dan persaingan yang tidak sehat hanya akan menghambat upaya mewujudkan tata kelola AI global yang baik, yang pada akhirnya tidak menguntungkan siapa pun," tambah Guo Jiakun.
Dario Amodei Soroti Risiko AI Tingkat Lanjut
Amodei pada Sabtu (13/9/2026) menerbitkan esai berjudul "We Must Pace the Frontier" yang menyerukan industri memperlambat pengembangan AI frontier atau model AI tingkat lanjut.
Amodei menyatakan bahwa meskipun hal itu sulit dilakukan, "kita berutang kepada umat manusia untuk mencobanya."
Ia menyoroti recursive self-improvement (RSI), yakni kemampuan AI menciptakan AI lain, sebagai salah satu alasan untuk "memperlambat laju pengembangan AI".
Faktor lainnya adalah insiden agen OpenAI dan Hugging Face yang disebut melibatkan sekumpulan AI dalam serangan siber serta upaya membobol sistem penilaian terhadap mereka.
Amodei memperingatkan bahwa dalam enam hingga 12 bulan mendatang, agen AI yang lebih canggih berpotensi menciptakan botnet dan mengambil alih sistem internet hingga menimbulkan kerugian ratusan miliar dolar.
Ia mengusulkan pengujian keamanan yang lebih ketat, evaluasi independen terhadap model AI canggih, koordinasi antarperusahaan AI terkemuka, serta peningkatan kerja sama internasional.
Musk dan Altman Dukung Pengaturan Laju AI
Elon Musk mendukung pandangan Amodei dengan mengatakan bahwa "Dario benar".
Musk sebelumnya turut mendukung upaya organisasi nirlaba Future of Life Institute pada 2023 untuk menghentikan pengembangan AI selama enam bulan guna memberikan waktu bagi penerapan langkah pengamanan.
Sam Altman juga menyatakan "Kita perlu mengatur laju pengembangan AI tingkat lanjut (frontier AI)".
OpenAI disebut berniat melibatkan evaluator independen yang memiliki akses setara dengan karyawan serta menunda rencana penawaran umum perdana demi menangani kekhawatiran terkait keamanan.
Altman sebelumnya telah menyoroti risiko teknologi tersebut dalam esai pada 2015 berjudul "Machine Intelligence, part 1" dengan menyebut bahwa "pengembangan kecerdasan mesin yang melampaui kemampuan manusia kemungkinan merupakan ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup umat manusia".
Salah satu pendiri sekaligus pimpinan Google DeepMind Demis Hassabis turut menilai rincian perlambatan pengembangan AI secara kolektif masih perlu dimatangkan meskipun arah langkah tersebut dinilai tepat.
China Dorong Kerangka Tata Kelola AI Global
China pada Juli 2026 menginisiasi pembentukan World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) yang ditandatangani 29 negara, termasuk Indonesia, untuk membangun kerangka tata kelola AI global.
Tahun 2026 juga disebut menjadi tahun pertama penerapan agen AI di China ketika teknologi tersebut mulai beralih dari kemampuan berkomunikasi menuju pengerjaan tugas secara mandiri.
Industri AI China diperkirakan terus berkembang dengan tingkat adopsi di perusahaan-perusahaan besar mencapai lebih dari 80 persen sehingga komersialisasi dan penerapan massal menjadi salah satu arah utama pengembangannya.
- Penulis :
- Aditya Yohan




