
Pantau - Qatar memperingatkan dampak gangguan pelayaran di Selat Bab al-Mandab di tengah penutupan Selat Hormuz serta menegaskan kebebasan jalur pelayaran dan perdagangan internasional harus tetap terjaga.
Direktur Departemen Media dan Komunikasi Kementerian Luar Negeri Qatar Ibrahim bin Sultan Al-Hashmi menyampaikan sikap tersebut dalam taklimat mingguan kementerian.
"Pemblokiran jalur perairan dan koridor perairan internasional tidak dapat dijadikan keadaan normal baru. Dan pemblokiran tersebut juga tidak dapat diterima oleh Qatar maupun komunitas internasional," kata Al-Hashmi.
Menurut Al-Hashmi, dunia telah menghadapi dampak dari penutupan Selat Hormuz sehingga gangguan terhadap pelayaran melalui Bab al-Mandab juga perlu dihindari.
Qatar Dorong Diplomasi dan Dialog
Qatar terus mendorong diplomasi, dialog, dan solusi damai untuk menangani konflik regional.
Al-Hashmi menekankan perundingan tetap menjadi jalan yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan konflik.
Saat ditanya mengenai upaya mempertemukan negara-negara Teluk dan Iran setelah tertundanya rencana pertemuan regional mengenai Selat Hormuz di Oman, Al-Hashmi kembali menekankan pentingnya kebebasan pelayaran dan perdagangan bagi Qatar serta dunia.
"Berbagai upaya sedang dilakukan. Upaya-upaya tersebut tidak berhenti dan tidak akan berhenti," imbuh Al-Hashmi.
Krisis regional juga akan menjadi salah satu agenda utama delegasi Qatar dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendatang.
Houthi Kuasai Pulau Mayun di Bab al-Mandab
Kelompok Houthi Yaman merebut kota pelabuhan strategis Mocha pada 10 September sebelum bergerak ke selatan menuju wilayah Bab al-Mandab pada hari berikutnya.
Houthi kemudian menguasai Pulau Mayun yang berada di kawasan selat tersebut, memperkuat kendali kelompok itu atas titik strategis di jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Setelah perkembangan tersebut, Houthi menyatakan pelayaran internasional melalui Bab al-Mandab tetap bebas, aman, dan lancar.
Kelompok tersebut juga menyatakan pelayaran kapal-kapal Arab Saudi tetap tunduk pada larangan maritim yang diberlakukan sejak 20 Juli.
- Penulis :
- Aditya Yohan




