HOME  ⁄  Geopolitik

Menlu Inggris Sebut Israel Makin Kehilangan Sekutu akibat Tindakan di Gaza dan Tepi Barat

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Menlu Inggris Sebut Israel Makin Kehilangan Sekutu akibat Tindakan di Gaza dan Tepi Barat
Foto: (Sumber :Menlu Inggris: Israel makin kehilangan sekutu Arsip - Menteri Luar Negeri Inggris Edward Samuel Miliband. (ANTARA/Anadolu).)

Pantau - Menteri Luar Negeri Inggris Edward Samuel Miliband mengatakan Israel semakin kehilangan teman dan sekutu akibat tindakannya di Jalur Gaza dan Tepi Barat, dalam wawancara dengan siniar Inggris The Rest is Politics, Selasa (15/9/2026).

"Israel sedang kehilangan teman. Mereka tidak mendapatkan sekutu baru, justru kehilangan sekutu. Mereka kehilangan sekutu di mana-mana," kata Miliband.

Miliband mengatakan sanksi terbaru yang menargetkan pemukiman Israel di Tepi Barat muncul setelah peringatan bahwa solusi dua negara terancam oleh perkembangan di lapangan.

"Semua langkah itu untuk mengubah keadaan tersebut. Rezim sanksi ini menargetkan pendudukan ilegal, bukan menargetkan atau mendelegitimasi Israel dengan cara apa pun," katanya.

Miliband Soroti Perluasan Pemukiman E1

Menurut Miliband, status quo tidak berjalan dengan baik dan proyek perluasan pemukiman E1 Israel telah lama dipandang sebagai "garis merah" oleh komunitas internasional.

"Karena pada dasarnya, hal itu akan memisahkan Yerusalem Timur dari Tepi Barat, yang benar-benar membuat Palestina tidak dapat berdiri sendiri," ucap Miliband.

Miliband mengatakan kombinasi putusan Mahkamah Internasional pada 2024, lamanya pendudukan wilayah Palestina, serta pengungsian warga Palestina mendorong pemerintah Inggris mengambil langkah tersebut.

"Kita tidak boleh menyerah di hadapan terorisme pemukim," kata Miliband sembari menyatakan keyakinannya bahwa tidak akan ada stabilitas di Timur Tengah tanpa solusi dua negara antara Palestina dan Israel.

"Kita harus menghentikan terorisme pemukim, terorisme yang sesungguhnya. Saya menggunakan istilah itu, pembersihan etnis yang dilakukan oleh para teroris pemukim. Itulah yang sedang terjadi," tuturnya.

Miliband mengatakan sebelum mengumumkan sanksi tersebut, ia memikirkan apa yang akan dikatakan ibunya yang meninggal pada Mei lalu.

"Dia (ibu saya) akan berkata, Lihatlah apa yang terjadi pada rakyat Palestina! Lihatlah apa yang terjadi pada orang-orang malang ini. Ini salah," kata Miliband.

Inggris Terapkan Sanksi terkait Pemukiman

Miliband mengatakan dirinya baru-baru ini bertemu dengan sejumlah orang, termasuk seorang dokter yang pernah bekerja di Gaza, dan menyebut kesaksian yang disampaikan kepadanya sebagai sesuatu yang "benar-benar tidak bisa diungkapkan" dan "mengerikan".

Menurut Miliband, tindakan Israel yang menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza tampaknya merupakan strategi yang disengaja.

"Situasi di lapangan sangat buruk. Tidak ada yang dapat membenarkan apa yang telah terjadi di Gaza. Sejak apa yang disebut gencatan senjata, 1.200 warga Palestina telah terbunuh. Itu bukan gencatan senjata yang berarti," katanya.

Miliband mengatakan Inggris berupaya menyampaikan pesan kepada masyarakat Israel menjelang pemilu negara tersebut pada 27 Oktober.

"Kami tidak tahu apa yang akan terjadi dalam pemilu Israel pada 27 Oktober, tetapi kami berupaya mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada rakyat Israel untuk mengatakan, lihat, masyarakat internasional tidak akan tinggal diam ketika pendudukan ini terus berlangsung," ujarnya.

Miliband pada pekan sebelumnya mengumumkan sejumlah langkah, termasuk larangan impor barang dari pemukiman Israel, sanksi terhadap perusahaan dan individu yang dinilai memfasilitasi perluasan pemukiman, serta sanksi tambahan terhadap ekstremis Israel yang diduga mendukung atau menghasut kekerasan terhadap warga Palestina.

Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari kebijakan Inggris untuk mempertahankan peluang terwujudnya solusi dua negara.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026