HOME  ⁄  Geopolitik

Pebisnis China dan Indonesia Membahas Peluang Baru Investasi Industri dan Manufaktur Hijau

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pebisnis China dan Indonesia Membahas Peluang Baru Investasi Industri dan Manufaktur Hijau
Foto: (Sumber :Ilustrasi membersihkan dan merapikan dapur. ANTARA/HO-MART PRODUCTION dari Pexels.)

Pantau - Pebisnis China dan Indonesia membahas peluang baru kemitraan industri melalui Forum China-ASEAN-Indonesia 2026 tentang Kerja Sama dan Investasi Kapasitas Industri yang diselenggarakan di Tianjin, China utara.

Forum tersebut berfokus pada peningkatan struktur industri Indonesia, pengembangan kawasan industri hijau, serta lokalisasi perusahaan-perusahaan China.

Seiring implementasi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) dan peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN ke Versi 3.0, perusahaan China secara bertahap beralih dari perdagangan dan ekspor produk menuju produksi lokal serta kolaborasi rantai industri.

Acara yang diselenggarakan Bedford Square Group (BSG) itu dihadiri perwakilan pemerintah, kalangan bisnis, lembaga promosi investasi Indonesia, organisasi pengusaha, pengelola kawasan industri, perusahaan infrastruktur, dan lembaga layanan profesional.

Indonesia Dorong Hilirisasi dan Investasi Manufaktur

Direktur Pusat Promosi Investasi Indonesia (IIPC) Beijing Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rizaldi Indra Janu mengatakan Indonesia terus mendorong hilirisasi industri, energi hijau, dan manufaktur.

Indonesia juga meningkatkan pengembangan kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, serta kebijakan fasilitasi investasi.

Rizaldi menyebut perusahaan China telah menjadi mitra investasi penting bagi Indonesia dengan ruang kerja sama yang masih luas pada sektor manufaktur, energi baru, infrastruktur, dan rantai industri.

Pendiri sekaligus Presiden Direktur dan CEO Global Putra International Group (GPI) Sumadi Kusuma mengatakan perusahaan China semakin beralih dari perdagangan tradisional menuju investasi industri, lokalisasi manufaktur, dan kolaborasi rantai pasokan.

Berdasarkan pengalaman kewirausahaannya selama lebih dari empat dekade di Indonesia, Sumadi menilai kehadiran jangka panjang membutuhkan modal, teknologi, dan produk sekaligus pemahaman mengenai regulasi, budaya, kondisi pasar, serta kemitraan lokal yang stabil.

GPI menyatakan akan memanfaatkan pengalaman lokal dan kapabilitas layanan rantai pasokan untuk mendukung perusahaan China yang berinvestasi dan membangun operasional di Indonesia.

Lokalisasi Jadi Bagian Ekspansi Perusahaan China

Kepala Perwakilan Bedford Square Group di Indonesia Liu Zhe mengatakan perusahaan China yang berekspansi ke Indonesia tengah mempercepat transisi dari kerja sama perdagangan menuju investasi terlokalisasi, penempatan kapasitas industri, dan operasional jangka panjang.

Menurut Liu, peluang pasar Indonesia perlu diikuti persiapan sistematis yang mencakup akses investasi, pemilihan kawasan industri, mitra lokal, kepatuhan, dan koordinasi sumber daya.

BSG menyatakan akan memanfaatkan jaringan lokal di Indonesia dan layanan lintas batas untuk menghubungkan pemerintah daerah, kawasan industri, mitra industri, serta penyedia layanan profesional.

Seusai forum, sejumlah perusahaan dan lembaga China serta Indonesia menggelar pertemuan mengenai kawasan industri, manufaktur hijau, layanan air, infrastruktur digital, logistik, rantai pasokan, dan layanan perusahaan.

Pertemuan tersebut diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan investasi, sumber daya industri, dan kemampuan perusahaan China dengan peluang kerja sama yang lebih konkret di Indonesia.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026