HOME  ⁄  Lifestyle

Studi Menemukan Penguasaan Lebih Banyak Bahasa Berkaitan dengan Penuaan Otak yang Lebih Lambat

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Studi Menemukan Penguasaan Lebih Banyak Bahasa Berkaitan dengan Penuaan Otak yang Lebih Lambat
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Otak. ANTARA/Freepik/am..)

Pantau - Menguasai lebih dari satu bahasa berkaitan dengan proses penuaan otak yang cenderung lebih lambat berdasarkan penelitian terbaru terhadap 728 orang di wilayah Basque, Spanyol.

Penelitian menemukan orang yang menguasai dua bahasa memiliki pola aktivitas otak yang diperkirakan sekitar enam tahun lebih muda dibandingkan mereka yang hanya menggunakan satu bahasa.

Pada peserta yang menguasai tiga bahasa, perbedaannya mencapai sekitar tujuh tahun, sedangkan mereka yang menguasai empat bahasa menunjukkan aktivitas otak yang terlihat hingga 13 tahun lebih muda.

Penelitian yang dipaparkan dalam forum Federation of European Neuroscience Societies (FENS) tersebut melibatkan peserta yang menguasai hingga empat bahasa.

Peneliti Ukur Perkiraan Usia Otak

Para peneliti menggunakan perangkat untuk merekam aktivitas sel-sel otak peserta dan menganalisis pola yang dihasilkan.

Data tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan usia otak atau brain age masing-masing peserta.

Hasil penelitian menunjukkan jumlah bahasa yang dikuasai bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan perkiraan usia otak.

Kemampuan menggunakan bahasa serta usia ketika seseorang mulai mempelajari bahasa kedua juga memiliki keterkaitan.

Ketua kelompok penelitian dari Basque Center on Cognition, Brain and Language di San Sebastián, Lucia Amoruso, mengatakan pengalaman menggunakan banyak bahasa menunjukkan pengaruh secara bertahap.

Manfaat yang ditemukan berkaitan dengan jumlah bahasa yang digunakan sekaligus seberapa lama dan seberapa baik seseorang menguasainya.

Bahasa Bukan Satu-satunya Faktor

Peneliti menegaskan hasil studi tidak membuktikan bahwa kemampuan berbahasa merupakan satu-satunya penyebab penuaan otak menjadi lebih lambat.

Kebiasaan hidup dan aktivitas sosial juga dapat memengaruhi kesehatan otak sehingga turut menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

Penelitian berikutnya akan mengkaji apakah kombinasi bahasa tertentu memberikan pengaruh berbeda terhadap aktivitas otak.

Peneliti juga akan mempelajari hubungan kemampuan berpindah dari satu bahasa ke bahasa lainnya dengan fungsi otak.

Profesor Christina Dalla dari Medical School of the National and Kapodistrian University of Athens, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan belajar bahasa lain memiliki manfaat dalam aspek sosial, budaya, dan kesehatan otak.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026