HOME  ⁄  Geopolitik

Persaingan AS-China Bayangi Indonesia, Politik Bebas Aktif Dinilai Kian Penting di Tengah Konflik Global

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Persaingan AS-China Bayangi Indonesia, Politik Bebas Aktif Dinilai Kian Penting di Tengah Konflik Global
Foto: (Sumber :Arsip foto - Presiden Donald Trump mengikuti pertemuan bilateral dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. collections-whitehouse.gov/pri.)

Pantau - Persaingan Amerika Serikat dan China serta meningkatnya konflik global dinilai semakin mempersempit ruang diplomasi dan memberikan dampak yang turut dirasakan Indonesia.

Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menjadi salah satu agenda yang disoroti di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.

Pertemuan tersebut dinilai dapat menjadi momentum untuk melihat apakah diplomasi masih memiliki ruang dalam meredakan eskalasi konflik antara kekuatan-kekuatan global.

Konflik Global Persempit Ruang Diplomasi

Eskalasi konflik terjadi di sejumlah kawasan, mulai dari perang Rusia-Ukraina, konfrontasi Amerika Serikat-Iran, konflik yang melibatkan kelompok Houthi, hingga perang di Palestina.

Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas diplomasi ketika kesepakatan di meja perundingan belum mampu menghentikan berbagai konflik secara berkelanjutan.

Di tengah kondisi tersebut, Amerika Serikat disebut mengonfirmasi kunjungan balasan Presiden Xi Jinping ke Washington pada 23 September 2026.

Pertemuan dua kekuatan besar itu turut menjadi perhatian Indonesia karena dampak konflik dan persaingan global telah menyentuh kepentingan ekonomi masyarakat.

"Di tengah persaingan keras dua figur dominan ini, keseimbangan (symmetry) adalah premi asuransi termurah bagi politik bebas-aktif kita."

Politik Bebas Aktif Jadi Fondasi Indonesia

Indonesia memiliki prinsip politik luar negeri bebas aktif yang berakar dari pemikiran Mohammad Hatta pada awal berdirinya Republik.

Pada September 1948, Hatta menyampaikan pandangan bahwa Indonesia tidak boleh menjadi objek dalam pertarungan negara-negara adidaya, tetapi harus menjadi subjek yang menentukan arahnya sendiri.

Pandangan tersebut kemudian menjadi fondasi kebijakan luar negeri Indonesia dalam menghadapi periode Perang Dingin dan tetap digunakan hingga kini.

Pendekatan Indonesia tersebut dalam tulisan Muhammad Abdurrohim juga dikaitkan dengan strategi hedging, yakni menjaga ruang gerak di tengah persaingan kekuatan besar.

Posisi Indonesia menjadi semakin penting ketika dampak konflik internasional tidak hanya menyangkut hubungan antarnegara, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026