HOME  ⁄  Geopolitik

Guterres dan Pezeshkian Bahas Diplomasi untuk Akhiri Konflik serta Pembukaan Selat Hormuz

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Guterres dan Pezeshkian Bahas Diplomasi untuk Akhiri Konflik serta Pembukaan Selat Hormuz
Foto: (Sumber :Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat menyampaikan pidato dalam Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Rabu (23/9/2026). ANTARA/Anadolu/Mehmet Eser/aa..)

Pantau - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian membahas penyelesaian konflik di Timur Tengah melalui jalur diplomasi serta situasi Selat Hormuz dalam pertemuan pada Jumat (25/9/2026).

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah proposal Iran untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz yang memiliki posisi strategis bagi pasokan energi dunia.

"Sekjen PBB menekankan kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah melalui dialog dan perundingan, dengan menghormati sepenuhnya hukum internasional, termasuk hak dan kebebasan navigasi internasional di dalam dan sekitar Selat Hormuz," menurut pernyataan PBB.

Guterres juga menegaskan kembali komitmen PBB untuk mendukung seluruh upaya diplomatik terkait konflik tersebut.

Iran Ajukan Proposal Tujuh Hari

Iran menyatakan telah mengajukan proposal selama tujuh hari untuk mengakhiri permusuhan sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan proposal tersebut telah disampaikan kepada Amerika Serikat melalui Qatar.

Menurut Araghchi, Selat Hormuz dapat dibuka dalam waktu tujuh hari apabila kondisi yang diperlukan terpenuhi.

Amerika Serikat hingga kini belum memberikan tanggapan secara terbuka terhadap proposal tersebut.

Konflik Berdampak pada Selat Hormuz

Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran sejak 28 Februari 2026, yang menurut pemerintah Iran telah menewaskan ribuan orang.

Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone di kawasan tersebut serta secara efektif menutup Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pasokan energi sehingga situasi di kawasan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam upaya diplomasi.

Pertemuan Guterres dan Pezeshkian menempatkan dialog, perundingan, penghormatan terhadap hukum internasional, serta kebebasan navigasi sebagai bagian dari pembahasan mengenai penyelesaian konflik.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026