HOME  ⁄  Geopolitik

Mongolia Bidik Kerja Sama dengan Indonesia di Sektor Farmasi, Energi hingga Pangan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Mongolia Bidik Kerja Sama dengan Indonesia di Sektor Farmasi, Energi hingga Pangan
Foto: (Sumber :Presiden Kamar Dagang dan Industri Nasional Mongolia (Mongolian national Chamber of Commerce and Industry atau MNCCI) Baatarjav Lkhagvajav (kiri) dan Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia dalam forum bisnis "70 years of Partnership: A New Era of Cooperation" di Ulan Bator, Mongolia pada Selasa (29/9/2026). ANTARA/Desca Lidya Natalia.)

Pantau - Pelaku usaha Mongolia ingin memperluas kerja sama ekonomi dengan Indonesia di berbagai sektor, mulai dari farmasi, manufaktur kesehatan, pangan, energi terbarukan hingga teknologi hijau di tengah momentum 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2026.

Presiden Kamar Dagang dan Industri Nasional Mongolia (MNCCI) Baatarjav Lkhagvajav menyampaikan peluang tersebut dalam forum bisnis 70 years of Partnership: A New Era of Cooperation di Ulan Bator, Mongolia, Selasa (29/9/2026).

Forum tersebut diikuti sekitar 35 pelaku usaha Indonesia dan Mongolia secara langsung maupun daring.

"Kami melihat adanya peluang untuk memperluas kerja sama di bidang farmasi, manufaktur terkait kesehatan, barang konsumsi, dan produk pangan maupun peluang menjanjikan di sektor-sektor yang berorientasi masa depan, seperti energi terbarukan, teknologi hijau, dan efisiensi energi," kata Baatarjav.

Indonesia dan Mongolia telah menjalin hubungan diplomatik sejak 21 Desember 1956 dan memperingati 70 tahun hubungan tersebut pada 2026.

"Saat ini, daya saing bisnis global tidak lagi semata-mata ditentukan oleh biaya produksi yang rendah. Faktor-faktor seperti teknologi, efisiensi energi, standar lingkungan, keandalan rantai pasok, dan produksi berkelanjutan menjadi semakin penting," ungkap Baatarjav.

Menurut dia, perkembangan tersebut membuka peluang baru bagi perusahaan Indonesia dan Mongolia untuk memperluas kerja sama.

Perdagangan Dinilai Masih di Bawah Potensi

Baatarjav menilai perekonomian Indonesia dan Mongolia memiliki potensi besar untuk saling melengkapi meskipun kedua negara terpisah jarak geografis yang jauh.

"Tahun ini menandai peringatan 70 tahun terjalinnya hubungan diplomatik antara Mongolia dan Republik Indonesia. Selama 70 tahun terakhir, hubungan persahabatan antara kedua negara kita telah berkembang secara stabil di berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, budaya, hingga kemanusiaan," tambah Baatarjav.

Berdasarkan data yang disampaikan Baatarjav, total perdagangan bilateral pada 2025 mencapai 47,4 juta dolar AS dengan ekspor Mongolia sekitar 168.000 dolar AS dan impor dari Indonesia sekitar 47,25 juta dolar AS.

"Pada tahun 2025, total perdagangan bilateral antara kedua negara mencapai 47,4 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, ekspor Mongolia hanya mencakup sekitar 168.000 dolar AS, sementara impor dari Indonesia ke Mongolia mencapai sekitar 47,25 juta dolar AS. Angka-angka ini menyoroti satu fakta penting: tingkat perdagangan bilateral saat ini masih jauh di bawah potensi maksimalnya," jelas Baatarjav.

Sementara itu, catatan Kementerian Perdagangan RI menunjukkan angka berbeda dengan total perdagangan Indonesia-Mongolia pada 2025 sebesar 56,6 juta dolar AS.

Menurut data tersebut, ekspor Indonesia mencapai 49,5 juta dolar AS, sedangkan impor dari Mongolia tercatat 6,5 juta dolar AS.

Atase Perdagangan KBRI Beijing Junita Syartika mengatakan nilai perdagangan kedua negara masih relatif kecil sehingga diperlukan penjajakan terhadap lebih banyak produk potensial.

"Angka ini menunjukkan nilai perdagangan yang relatif kecil. Kita perlu menjajaki lebih banyak produk dari Indonesia, dan Indonesia juga akan menjajaki produk dari Mongolia terlebih kita tahu bahwa wol dan produk-produk lain dari Mongolia memiliki kualitas yang sangat baik," tambah Junita.

Pangan, Tambang dan Pariwisata Jadi Peluang Baru

Sektor pangan dan pertanian menjadi salah satu bidang yang dijajaki, terutama pengembangan rantai pasok daging serta produk olahan daging Mongolia yang memenuhi standar halal.

"Mongolia memiliki keunggulan signifikan dalam hal bahan baku berbasis peternakan dan produk alam. Sementara itu, Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, merupakan salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara serta konsumen utama produk pangan dan olahan," tambah Baatarjav.

Kerja sama juga berpeluang dikembangkan pada sektor pertambangan, peralatan pertambangan, teknologi, dan jasa dengan menghubungkan kebutuhan Mongolia dengan kemampuan manufaktur serta pasokan Indonesia.

"Dengan menghubungkan kebutuhan sektor pertambangan Mongolia dengan kemampuan manufaktur, teknologi, dan pasokan Indonesia, kita dapat melangkah lebih jauh dari sekadar perdagangan barang biasa menuju pengembangan kerja sama di bidang teknologi, jasa, investasi, dan proyek bersama," ungkap dia.

Sektor pariwisata turut menjadi perhatian karena Indonesia dan Mongolia dinilai memiliki karakter destinasi yang berbeda dan dapat saling melengkapi.

"Dengan kata lain, kedua negara kita dapat saling menawarkan pengalaman perjalanan yang sangat berbeda dan menarik. Oleh karena itu, selain sekadar menarik wisatawan, kita perlu menjajaki peluang untuk menghubungkan secara langsung perusahaan pariwisata dari kedua negara serta mengembangkan produk dan program pariwisata bersama," jelas Baatarjav.

Junita mengatakan Indonesia juga memiliki potensi ekspor berupa buah tropis, produk olahan buah, serta berbagai rempah berkualitas tinggi.

"Anda tidak akan menemukan rempah-rempah yang persis sama kualitasnya dengan yang berasal dari Maluku dan Sulawesi di tempat lain," kata Junita.

Junita turut mengajak pengusaha Mongolia mengikuti Trade Expo Indonesia 2026 pada 14-18 Oktober 2026 untuk memperkenalkan lebih banyak produk Mongolia kepada pasar Indonesia.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026