
Pantau - Militer Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan tengah menyusun rencana serangan baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS, dengan kemungkinan operasi militer berlangsung singkat tetapi berintensitas tinggi.
Surat kabar The New York Times pada Rabu (21/10/2026) melaporkan bahwa persiapan tersebut mencakup peningkatan latihan militer dan pembahasan sejumlah sasaran strategis di Iran.
Laporan yang mengutip pejabat AS dan pihak-pihak yang mengetahui pembahasan itu menyebutkan bahwa fasilitas nuklir, persenjataan rudal, pesawat nirawak, serta infrastruktur energi Iran termasuk dalam daftar target potensial.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga dilaporkan telah bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Israel pada pekan ini untuk membahas kemungkinan operasi militer baru.
Namun, belum ada kepastian apakah Presiden AS Donald Trump akan memberikan persetujuan terhadap rencana serangan tersebut.
Militer AS dan Israel Tingkatkan Latihan Serangan
Menurut laporan The New York Times, militer AS dan Israel meningkatkan kegiatan latihan sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan operasi terhadap Iran.
Latihan tersebut mencakup penerbangan di wilayah udara Irak untuk mengasah manuver serangan.
Kedua negara disebut mempertimbangkan operasi militer yang berlangsung dalam waktu relatif singkat dengan intensitas serangan tinggi.
Sejumlah fasilitas strategis Iran dilaporkan menjadi sasaran potensial, termasuk instalasi nuklir dan persenjataan rudal.
Infrastruktur pesawat nirawak dan fasilitas energi juga masuk dalam pembahasan mengenai kemungkinan target serangan.
Meski demikian, laporan tersebut belum memastikan apakah rencana itu akan dilaksanakan.
Fasilitas Nuklir Bawah Tanah Iran Masuk Daftar Target Potensial
Salah satu fasilitas yang disebut dalam laporan adalah Pickaxe Mountain, instalasi nuklir Iran yang berada jauh di bawah tanah.
Fasilitas tersebut dilaporkan menjadi salah satu sasaran yang dipertimbangkan apabila AS dan Israel memutuskan melancarkan operasi terhadap program nuklir Iran.
Pembahasan mengenai fasilitas bawah tanah itu menjadi bagian dari perencanaan yang lebih luas terkait kemampuan nuklir Teheran.
Selain fasilitas nuklir, kemungkinan serangan terhadap persenjataan rudal dan pesawat nirawak Iran juga disebut sedang dipertimbangkan.
Belum terdapat keputusan resmi yang diumumkan mengenai target maupun waktu pelaksanaan operasi tersebut.
Donald Trump Belum Berikan Persetujuan Serangan
Walaupun terdapat laporan peningkatan persiapan militer, keputusan akhir mengenai keterlibatan AS masih berada di tangan Presiden Donald Trump.
Trump sebelumnya berulang kali menolak gagasan untuk kembali melancarkan operasi tempur besar terhadap Iran pada 2026.
Pada awal Oktober, Trump menyatakan bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu karena Washington dan Teheran sedang menjalani "pembicaraan yang produktif".
Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada The New York Times bahwa pemerintah tidak memberikan komentar mengenai rencana militer yang "mungkin ada atau mungkin tidak ada".
Pejabat tersebut menambahkan bahwa Trump tetap mempertimbangkan seluruh opsi untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Konflik AS-Israel dan Iran Berdampak pada Selat Hormuz
Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran meningkat setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah di kawasan Timur Tengah.
Konflik tersebut juga menyebabkan Selat Hormuz secara efektif tertutup bagi aktivitas pelayaran, sehingga mengganggu jalur penting pasokan energi global.
Pada Juni 2026, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman melalui mediasi Pakistan dan Qatar sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.
Namun, pelaksanaan kesepahaman tersebut kemudian mengalami kebuntuan akibat sejumlah perselisihan, termasuk persoalan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Di tengah belum terselesaikannya perbedaan kedua negara, laporan mengenai kemungkinan serangan baru muncul bersamaan dengan pembahasan opsi militer antara pejabat AS dan Israel.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




