
Pantau - Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot menegaskan bahwa keputusan mengenai siapa yang berhak memimpin Iran sepenuhnya berada di tangan rakyat negara tersebut, sekaligus menolak permintaan agar Belgia mengakui Reza Pahlavi sebagai wakil sah rakyat Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Prevot melalui platform media sosial X pada Jumat (23/10/2026), sebagai tanggapan terhadap seorang aktivis yang meminta pengakuan Belgia terhadap putra mantan Shah Iran tersebut.
Prevot menilai pengakuan terhadap satu tokoh sebagai pemimpin oposisi tidak dapat dilakukan karena kelompok oposisi dan diaspora Iran memiliki pandangan yang beragam.
"Justru, atas nama demokrasi, keputusan mengenai siapa yang harus memimpin Iran adalah keputusan yang harus sepenuhnya berada di tangan rakyat Iran," kata Prevot.
Belgia Tolak Akui Reza Pahlavi sebagai Wakil Sah Iran
Prevot menjelaskan bahwa Pemerintah Belgia tidak dapat mengakui Reza Pahlavi sebagai wakil sah rakyat Iran maupun pemimpin pemersatu oposisi demokratis.
Reza Pahlavi merupakan putra mantan Shah Iran yang pemerintahannya digulingkan dalam Revolusi Iran.
Menurut Prevot, terdapat sejumlah individu dan gerakan lain yang juga menghubunginya dengan klaim mewakili kelompok oposisi Iran.
Ia menegaskan bahwa keberagaman pandangan di kalangan oposisi dan diaspora Iran harus diperhatikan dalam setiap bentuk keterlibatan diplomatik.
Karena itu, Belgia tidak dapat memberikan pengakuan politik kepada satu tokoh sebagai perwakilan seluruh rakyat Iran.
Parlemen Belgia Batalkan Undangan Resmi untuk Reza Pahlavi
Pernyataan Prevot muncul setelah Dewan Perwakilan Rakyat Belgia membatalkan rencana penerimaan resmi terhadap Reza Pahlavi yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 5 November 2026.
Menurut laporan kantor berita Belga, pembatalan diputuskan pada Rabu (21/10/2026) setelah fraksi-fraksi parlemen gagal mencapai kesepakatan.
Keputusan tersebut juga menyusul peringatan Kementerian Luar Negeri Belgia agar parlemen berhati-hati dalam menyikapi rencana kunjungan tersebut.
Prevot membantah bahwa dirinya secara pribadi menolak undangan kepada Pahlavi.
Ia menegaskan penghormatannya terhadap kemandirian parlemen Belgia dalam menjalin hubungan dengan tokoh politik asing.
"Pada akhirnya, keputusan untuk menolak kehadiran Bapak Pahlavi diambil oleh Dewan Perwakilan Rakyat, bukan oleh saya," kata Prevot.
Prevot justru menyarankan agar parlemen turut mengundang kelompok oposisi Iran lainnya untuk menyampaikan pandangan mereka.
Meski agenda resmi dibatalkan, partai Gerakan Reformasi yang menggagas undangan tersebut tetap dapat menerima Pahlavi dalam pertemuan tertutup.
Belgia Pertahankan Hubungan Diplomatik dengan Iran
Selain membahas pengakuan terhadap oposisi Iran, Prevot juga membela keputusan Belgia untuk tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Teheran.
Ia menolak usulan Gerakan Reformasi, partai liberal berbahasa Prancis, yang meminta pemerintah mengusir Duta Besar Iran dari Belgia.
Menurut Prevot, hubungan diplomatik diperlukan agar Belgia tetap memiliki saluran komunikasi dengan pemerintah Iran.
Kehadiran perwakilan diplomatik juga dinilai penting untuk memantau perkembangan situasi di negara tersebut.
"Penerapan sanksi tidak bertentangan dengan pendekatan kami untuk tetap menjaga diplomasi dan dialog tetap hidup," kata Prevot.
Ia menegaskan bahwa penerapan sanksi terhadap Iran tidak harus diikuti dengan pemutusan komunikasi diplomatik.
Belgia Siap Pertimbangkan Sanksi Tambahan Terkait HAM
Prevot menyatakan Belgia akan terus mengecam pelanggaran hak asasi manusia dan hak perempuan di Iran.
Pemerintah Belgia juga menyatakan dukungan terhadap aspirasi rakyat Iran untuk memperoleh demokrasi.
Meski demikian, Prevot menilai jalur dialog tetap perlu dipertahankan selama memungkinkan.
"Kami siap mempertimbangkan sanksi tambahan, sambil tetap mempertahankan dialog sebisa mungkin," tegasnya.
Sikap tersebut menunjukkan pendekatan Belgia yang menggabungkan tekanan diplomatik dengan upaya mempertahankan komunikasi terhadap pemerintah Iran.
Ketegangan Iran Meningkat di Tengah Seruan Pergantian Pemerintahan
Pernyataan Prevot disampaikan di tengah ketegangan politik dan keamanan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, serta Israel.
Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari 2026 dengan tujuan menghancurkan program nuklir dan menggulingkan pemerintahan Iran.
Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu juga kembali menyerukan pergantian pemerintahan di Republik Islam Iran menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya.
Di tengah situasi tersebut, Belgia menegaskan bahwa penentuan kepemimpinan Iran harus menjadi keputusan rakyat Iran sendiri, bukan ditetapkan melalui pengakuan pemerintah asing terhadap tokoh oposisi tertentu.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




