
Pantau - Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, kembali menyoroti krisis iklim di Indonesia setelah membagikan video mengenai kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, melalui akun Instagram pribadinya pada Oktober 2026.
Unggahan tersebut memperlihatkan seorang perempuan mengenakan masker respirator dan kacamata di tengah kabut asap yang menyelimuti pepohonan serta permukiman warga.
Melalui unggahan itu, Greta menyampaikan seruan dukungan bagi petugas pemadam kebakaran, perlindungan masyarakat terdampak asap, serta penyelamatan kawasan hutan.
Perhatian terhadap karhutla Indonesia menjadi bagian dari aktivitas Greta yang selama bertahun-tahun menyuarakan persoalan perubahan iklim, lingkungan, dan kemanusiaan di berbagai negara.
Greta Thunberg Soroti Kabut Asap Karhutla di Kalimantan Tengah
Dalam tulisan berjudul Militansi Greta Thunberg karya Asro Kamal Rokan yang diterbitkan Sabtu (24/10/2026), Greta disebut membagikan video dari seorang perempuan di Palangka Raya melalui akun Instagram @gretathunberg.
Video tersebut memperlihatkan kondisi lingkungan yang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Perempuan dalam rekaman mengenakan perlengkapan pelindung pernapasan dan mata ketika berada di kawasan terdampak.
Greta turut menyampaikan seruan untuk meningkatkan bantuan kepada petugas pemadam kebakaran dan masyarakat yang menghadapi ancaman kabut asap.
"Bantu kami mendukung para petugas pemadam kebakaran, membangun lebih banyak tempat perlindungan dari kabut asap untuk melindungi masyarakat—terutama anak-anak dan kelompok rentan—serta menyelamatkan hutan yang tersisa," demikian pesan dalam unggahan tersebut.
Menurut tulisan itu, unggahan Greta telah memperoleh sekitar 683 ribu tanda suka, 223 ribu unggahan ulang, dan 50,8 ribu kali dibagikan hingga 22 Oktober 2026.
Akun Instagram aktivis tersebut juga disebut memiliki sekitar 17,1 juta pengikut.
Greta Mulai Aktivisme Iklim Sejak Berusia 15 Tahun
Greta Tintin Eleonora Emman Thunberg lahir pada 3 Januari 2003 di Stockholm, Swedia.
Ia mulai dikenal secara internasional setelah melakukan aksi mogok sekolah di depan gedung parlemen Swedia pada Agustus 2018.
Ketika itu, Greta yang masih berusia 15 tahun membawa papan bertuliskan Skolstrejk för klimatet atau Mogok Sekolah untuk Iklim.
Aksi tersebut berlangsung menjelang pemilihan umum Swedia dan dipicu kekhawatirannya terhadap gelombang panas, kebakaran hutan, serta penanganan perubahan iklim.
Greta kemudian melanjutkan aksi mogok sekolah setiap Jumat untuk mendesak pemerintah mengambil langkah pengurangan emisi karbon sesuai Perjanjian Paris.
Gerakan yang awalnya dilakukan seorang diri itu berkembang melalui media sosial dan menarik perhatian pelajar serta aktivis di berbagai negara.
Aksi tersebut kemudian dikenal sebagai gerakan iklim yang melibatkan peserta dari berbagai benua.
Pada 2019, Greta juga menjadi salah satu kandidat penerima Nobel Perdamaian.
Greta Thunberg Beberapa Kali Ditangkap Saat Mengikuti Demonstrasi
Aktivitas Greta tidak hanya berlangsung melalui kampanye media sosial, tetapi juga melalui aksi demonstrasi langsung.
Dalam tulisan Asro Kamal Rokan, Greta disebut telah tujuh kali ditangkap di berbagai negara terkait keterlibatannya dalam aksi protes.
Salah satu peristiwa yang disoroti adalah penangkapannya di Den Haag, Belanda, pada April 2024.
Ketika itu, Greta mengikuti aksi lingkungan yang memblokade jalan raya sebagai bentuk protes.
Ia juga terlibat dalam berbagai aksi demonstrasi di sejumlah negara Eropa sepanjang 2023 hingga 2025.
Keterlibatannya dalam aksi-aksi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas Greta berkembang dari kampanye perubahan iklim menjadi partisipasi langsung dalam berbagai gerakan protes.
Greta Ikut Misi Kemanusiaan ke Gaza pada 2025
Selain menyuarakan persoalan lingkungan, Greta juga terlibat dalam aksi solidaritas untuk masyarakat Palestina.
Pada Oktober 2025, ia bergabung dengan ratusan aktivis dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan menuju Gaza.
Kapal yang ditumpanginya bersama sejumlah aktivis dicegat Angkatan Laut Israel di kawasan Laut Mediterania.
Greta dan sejumlah peserta misi kemudian ditahan di Pelabuhan Ashdod, sekitar 40 kilometer di selatan Tel Aviv.
Jurnalis Italia Lorenzo D’Agostino menyampaikan kepada kantor berita Anadolu pada 5 Oktober 2025 bahwa Greta diduga mengalami perlakuan buruk selama penahanan.
"Greta Thunberg dibungkus bendera Israel dan dipamerkan seperti piala," kata Lorenzo D’Agostino.
Jurnalis Turki Ersin Celik juga menyampaikan tuduhan mengenai perlakuan kasar terhadap Greta selama berada dalam penahanan Israel.
"Mereka menyeret Greta dengan menjambak rambutnya di depan mata kami, memukulinya, dan memaksanya mencium bendera Israel," kata Ersin kepada Anadolu.
Keterangan tersebut merupakan tuduhan yang disampaikan para jurnalis sebagaimana dikutip dalam tulisan Asro Kamal Rokan.
Aktivisme Greta Meluas dari Krisis Iklim ke Isu Kemanusiaan
Perjalanan Greta sejak aksi mogok sekolah pada 2018 menunjukkan perluasan isu yang disuarakannya di ruang publik.
Selain menuntut pengurangan emisi karbon dan penanganan perubahan iklim, ia juga terlibat dalam gerakan solidaritas kemanusiaan.
Perhatiannya terhadap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah menjadi salah satu contoh keterlibatannya dalam persoalan lingkungan di luar Eropa.
Melalui media sosial dan demonstrasi, Greta terus menyampaikan pesan mengenai perlindungan lingkungan serta kondisi masyarakat yang terdampak krisis.
Dalam tulisannya, Asro Kamal Rokan menggambarkan konsistensi Greta melalui pernyataan, "Greta Thunberg terus berteriak, menyuarakan krisis iklim, penderitaan rakyat, penindasan di seluruh dunia, tanpa rasa takut. Dia berjuang tidak untuk dirinya, tapi untuk dunia yang lebih baik."
- Penulis :
- Aditya Yohan




