
Pantau - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kawasan Timur Tengah akan mengalami perubahan besar setelah perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel, termasuk dalam pengelolaan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam pidatonya di Kementerian Luar Negeri Iran, sebagaimana dilaporkan Press TV pada Minggu (25/10/2026).
Menurut Araghchi, konflik bersenjata yang berlangsung sejak Februari 2026 telah menciptakan kondisi baru yang akan memengaruhi dinamika keamanan dan hubungan antarnegara di kawasan tersebut.
"Perang saat ini telah mengubah segalanya. Kita harus mengakui bahwa realitas-realitas baru telah muncul," ujar Araghchi.
Ia menegaskan bahwa perubahan tersebut juga akan berdampak pada mekanisme pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
"Jalur pelayaran melalui Selat Hormuz tidak akan lagi sama seperti sebelumnya, begitu pula cara pengelolaan selat tersebut tidak akan sama seperti di masa lalu," ujarnya, menambahkan.
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz Akan Berubah
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama perselisihan antara Iran dan Amerika Serikat sejak pecahnya perang yang melibatkan Israel pada Februari lalu.
Teheran menyatakan tetap mempertahankan kewenangannya dalam mengatur lalu lintas pelayaran di perairan strategis tersebut.
Sementara itu, Washington menuntut penerapan kebebasan navigasi tanpa pembatasan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Perbedaan pandangan mengenai pengelolaan jalur pelayaran itu menjadi salah satu persoalan yang belum terselesaikan dalam hubungan kedua negara.
Araghchi menegaskan bahwa kondisi setelah perang tidak dapat disamakan dengan situasi sebelum konflik berlangsung.
Pemerintah Iran juga menyatakan terbuka terhadap pengaturan keamanan yang dirumuskan oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Iran Dukung Rencana Keamanan dari Negara-Negara Kawasan
Dalam pidatonya, Araghchi menegaskan bahwa Teheran akan menyambut baik "setiap rencana keamanan yang berasal dari kawasan itu sendiri.”
Pernyataan tersebut menunjukkan posisi Iran yang mendukung keterlibatan negara-negara kawasan dalam penyusunan mekanisme keamanan regional.
Araghchi tidak merinci bentuk pengaturan keamanan baru yang diinginkan Teheran maupun mekanisme pengelolaan Selat Hormuz pada masa mendatang.
Namun, ia menegaskan bahwa perkembangan konflik telah memunculkan keadaan baru yang harus diperhitungkan dalam penyusunan kebijakan kawasan.
Perundingan Iran dan Amerika Serikat Kembali Buntu
Iran dan Amerika Serikat sebelumnya sempat mencapai kesepakatan sementara pada Juni 2026 untuk meredakan konflik yang berlangsung sejak Februari.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu upaya diplomatik untuk mengurangi ketegangan antara kedua negara.
Namun, proses perundingan kembali menemui jalan buntu seiring meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.
Perselisihan mengenai kewenangan pengaturan Selat Hormuz dan tuntutan kebebasan navigasi masih menjadi bagian dari perbedaan posisi kedua pihak.
Hingga pernyataan Araghchi disampaikan, belum ada informasi mengenai tercapainya kesepakatan baru terkait pengelolaan jalur pelayaran strategis tersebut.
- Penulis :
- Gerry Eka




