HOME  ⁄  Geopolitik

Krisis Kemanusiaan Sudan Memburuk, 15,4 Juta Warga Butuh Hunian Darurat tetapi Bantuan Baru Jangkau 10 Persen

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Krisis Kemanusiaan Sudan Memburuk, 15,4 Juta Warga Butuh Hunian Darurat tetapi Bantuan Baru Jangkau 10 Persen
Foto: (Sumber :Kondisi tenda-tenda yang menampung para pengungsi yang baru saja melarikan diri ke wilayah Tawila, Sudan pada 5 Oktober 2026. (ANTARA/Xinhua/Al-Sayed Mahmoud Ahmed).)

Pantau - Sekitar 15,4 juta warga Sudan membutuhkan tempat tinggal darurat dan perlengkapan rumah tangga pokok akibat krisis kemanusiaan yang melanda negara tersebut, tetapi bantuan baru menjangkau sekitar 10 persen dari total kebutuhan karena keterbatasan pendanaan.

Peringatan tersebut disampaikan Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) di New York, Amerika Serikat, pada 6 November 2026.

Kedua lembaga tersebut mengungkapkan bahwa perempuan dan anak-anak mencakup sekitar tiga perempat dari keseluruhan pengungsi.

Sementara itu, lebih dari 5,2 juta warga yang telah kembali ke daerah asal menghadapi kondisi rumah rusak atau dijarah serta keterbatasan akses terhadap layanan dasar.

Kondisi tersebut diperburuk oleh minimnya pendanaan bantuan kemanusiaan, dengan Rencana Tanggap Kemanusiaan Sudan 2026 baru menerima 47 persen dari kebutuhan sebesar 2,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp52,51 triliun.

Sebanyak 15,4 Juta Warga Sudan Membutuhkan Tempat Tinggal Darurat

UNHCR dan IOM memperingatkan bahwa kebutuhan tempat tinggal darurat di Sudan masih sangat besar di tengah krisis kemanusiaan yang berlangsung.

Sekitar 15,4 juta orang membutuhkan bantuan berupa hunian sementara dan perlengkapan rumah tangga pokok.

Namun, keterbatasan dana membuat bantuan yang tersedia baru mampu menjangkau sekitar 10 persen dari jumlah tersebut.

Dengan tingkat jangkauan tersebut, sebagian besar warga yang membutuhkan belum memperoleh bantuan hunian darurat.

Kedua lembaga PBB itu juga menyoroti tingginya jumlah perempuan dan anak-anak dalam kelompok masyarakat yang mengungsi.

Menurut UNHCR dan IOM, sekitar 75 persen dari keseluruhan pengungsi merupakan perempuan dan anak-anak.

Kondisi tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan perlindungan dan bantuan kemanusiaan bagi kelompok rentan di Sudan.

Lebih dari 5,2 Juta Warga Kembali ke Rumah yang Rusak dan Dijarah

Di tengah krisis pengungsian, lebih dari 5,2 juta warga Sudan dilaporkan telah kembali ke rumah masing-masing.

Namun, kepulangan tersebut tidak selalu diikuti dengan tersedianya tempat tinggal yang layak.

UNHCR dan IOM menyebutkan bahwa banyak warga menemukan rumah mereka dalam keadaan hancur atau telah dijarah.

Selain kerusakan tempat tinggal, masyarakat yang kembali juga menghadapi keterbatasan akses terhadap berbagai layanan dasar.

Situasi tersebut membuat kebutuhan bantuan tidak hanya dialami warga yang masih mengungsi, tetapi juga mereka yang sudah kembali ke daerah asal.

Kebutuhan hunian darurat dan perlengkapan rumah tangga menjadi bagian penting dalam penanganan kondisi tersebut.

Pendanaan Bantuan Kemanusiaan Sudan Baru Terpenuhi 47 Persen

Krisis pendanaan menjadi salah satu kendala utama dalam penyaluran bantuan kepada masyarakat Sudan.

UNHCR dan IOM mengungkapkan bahwa Rencana Tanggap Kemanusiaan Sudan 2026 membutuhkan total anggaran sebesar 2,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp52,51 triliun.

Namun, hingga laporan tersebut disampaikan, dana yang berhasil dihimpun baru mencapai 47 persen dari keseluruhan kebutuhan.

Artinya, masih terdapat kekurangan pendanaan sebesar 53 persen untuk memenuhi target bantuan kemanusiaan tahun ini.

Keterbatasan tersebut berdampak pada kemampuan lembaga kemanusiaan dalam menyediakan tempat tinggal darurat dan kebutuhan pokok bagi warga terdampak.

Dengan 15,4 juta orang membutuhkan bantuan hunian dan perlengkapan rumah tangga, UNHCR serta IOM memperingatkan bahwa kesenjangan antara kebutuhan dan bantuan yang tersedia masih sangat besar.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026