
Pantau - Militer Amerika Serikat (AS) di Okinawa, Jepang, memutuskan memperpanjang pemberlakuan jam malam selama satu bulan hingga 7 Desember 2026 menyusul sejumlah kasus kriminal yang melibatkan personel militernya, termasuk dugaan pembunuhan dan mengemudi dalam kondisi mabuk.
Kebijakan tersebut berlaku bagi personel militer berpangkat di bawah sersan dengan pembatasan aktivitas mulai pukul 00.00 hingga 05.00 waktu setempat.
Jam malam sebelumnya diberlakukan sejak 9 Oktober 2026 dan semula dijadwalkan berakhir pada Minggu (8/11/2026).
Namun, penangkapan seorang anggota marinir karena mengemudi dalam kondisi mabuk saat jam malam berlangsung mendorong pihak militer AS memperpanjang pembatasan tersebut.
Militer AS juga menetapkan larangan membeli dan mengonsumsi minuman beralkohol di luar kediaman setelah tengah malam bagi seluruh personel tanpa pengecualian.
Militer AS Perpanjang Jam Malam di Okinawa hingga 7 Desember
Pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di Okinawa memperpanjang jam malam setelah sejumlah personelnya terlibat kasus kriminal di wilayah Jepang tersebut.
Pembatasan aktivitas awalnya diterapkan pada 9 Oktober 2026 sebagai langkah pengawasan terhadap perilaku anggota militer.
Dalam ketentuan tersebut, personel yang terkena aturan jam malam dibatasi aktivitasnya mulai tengah malam hingga pukul 05.00.
Kebijakan itu semula hanya berlaku hingga 8 November 2026, tetapi kini diperpanjang hingga 7 Desember 2026.
Perpanjangan jam malam secara khusus diberlakukan bagi anggota militer berpangkat di bawah sersan.
Sementara itu, personel berpangkat sersan ke atas tidak dikenai tambahan pembatasan jam malam tersebut.
Meski terdapat pengecualian berdasarkan pangkat, aturan mengenai konsumsi minuman beralkohol tetap berlaku bagi seluruh anggota militer AS di Okinawa.
Marinir AS Ditangkap karena Mengemudi dalam Kondisi Mabuk
Keputusan memperpanjang jam malam diambil setelah kepolisian setempat menangkap seorang anggota marinir Amerika Serikat yang diduga mengemudi dalam kondisi mabuk.
Penangkapan tersebut terjadi ketika kebijakan jam malam masih diberlakukan.
Kasus itu menjadi perhatian karena pembatasan aktivitas telah diterapkan untuk mencegah terulangnya tindakan kriminal yang melibatkan personel militer AS.
Pihak militer kemudian memutuskan memperpanjang masa pembatasan selama satu bulan bagi personel berpangkat di bawah sersan.
Langkah tersebut menambah masa pemberlakuan aturan yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada Minggu (8/11/2026).
Kasus Dugaan Pembunuhan Perempuan di Naha Picu Pemberlakuan Jam Malam
Pemberlakuan jam malam di Okinawa sebelumnya berkaitan dengan penangkapan anggota marinir AS bernama Devin Ballard.
Ballard ditangkap atas dugaan perampokan dan pembunuhan terhadap seorang perempuan di Naha, Okinawa.
Kasus tersebut menjadi salah satu alasan awal diberlakukannya pembatasan aktivitas personel militer Amerika Serikat sejak 9 Oktober 2026.
Penangkapan marinir lainnya karena mengemudi dalam kondisi mabuk kemudian menjadi dasar perpanjangan jam malam hingga Desember.
Meski demikian, dugaan tindak pidana terhadap Ballard masih harus dibedakan dari putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Laporan tersebut tidak merinci perkembangan proses hukum terhadap kedua personel marinir yang ditangkap.
Seluruh Personel Dilarang Konsumsi Alkohol di Luar Rumah setelah Tengah Malam
Selain memperpanjang jam malam, militer AS tetap memberlakukan pembatasan terkait minuman beralkohol bagi seluruh personelnya di Okinawa.
Aturan tersebut melarang setiap anggota militer membeli maupun mengonsumsi minuman beralkohol di luar kediaman setelah tengah malam.
Larangan itu berlaku tanpa membedakan pangkat, termasuk bagi personel berpangkat sersan ke atas yang dibebaskan dari tambahan jam malam.
Dengan demikian, pengecualian jam malam tidak menghapus kewajiban personel untuk mematuhi pembatasan konsumsi alkohol.
Kebijakan jam malam bagi personel berpangkat di bawah sersan dijadwalkan tetap berlaku hingga 7 Desember 2026.
- Penulis :
- Aditya Yohan




