HOME  ⁄  Hiburan

Fadli Zon Dorong Film Kepahlawanan Perkuat Memori Kolektif Bangsa, 20 Karya Menang Sayembara

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Fadli Zon Dorong Film Kepahlawanan Perkuat Memori Kolektif Bangsa, 20 Karya Menang Sayembara
Foto: (Sumber :Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon dalam taklimat media “Pengumuman Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan” di Jakarta, Jumat (4/9/2026) malam. ANTARA/Sri Dewi Larasati.)

Pantau - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong film bertema kepahlawanan menjadi medium untuk memperkuat memori kolektif bangsa sekaligus meningkatkan literasi sejarah masyarakat melalui karya yang relevan, inspiratif, mudah diakses, berbasis riset, dan akurat secara historis.

Kementerian Kebudayaan menjalankan upaya tersebut melalui program Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan yang menghasilkan tujuh pemenang kategori film panjang dan 13 pemenang film pendek.

"Membantu memperkuat industri perfilman nasional, memberi dampak manfaat ekonomi yang luas, terciptanya ruang sinergi dan kolaborasi antara sineas, sejarawan, akademisi, pelaku industri dalam mengembangkan karya berbasis sejarah," ujar Fadli dalam taklimat media "Pengumuman Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan" di Jakarta, Jumat (4/9/2026) malam.

Kemenbud Angkat Sejarah Perjuangan melalui Film

Fadli mengatakan Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan menjadi bagian dari upaya memajukan ekosistem perfilman Indonesia, terutama genre film kepahlawanan yang dinilai membutuhkan afirmasi.

"Kita tahu bahwa kalau film-film lain, drama yang lain atau film horor atau film cerita yang lain sudah menjadi bagian dari ekosistem yang telah hadir di tengah-tengah masyarakat dengan 67 persen market share di bioskop-bioskop kita," tutur Fadli.

Kementerian Kebudayaan juga berupaya mengangkat nilai kepahlawanan, patriotisme, dan nasionalisme melalui cerita dari era perang mempertahankan kemerdekaan pada 1945 hingga 1950.

"Jadi walaupun sudah ada proklamasi 17 Agustus tahun 1945, sebagaimana kita ketahui waktu itu belum sepenuhnya langsung bisa menikmati kemerdekaan. Tetap ada perjuangan karena para penjajah akan kembali lagi. Sehingga banyak sekali peristiwa-peristiwa dan tonggak-tonggak peristiwa yang terjadi pada kisaran tahun 45 hingga tahun 50," ujar Fadli.

Periode tersebut mencakup sejumlah peristiwa penting, mulai dari Agresi Militer Belanda I, Agresi Militer Belanda II, pembentukan Republik Indonesia Serikat, hingga Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950.

Fadli menilai sejarah periode tersebut telah banyak ditulis, tetapi tidak seluruhnya dekat dengan masyarakat sehingga film diharapkan menjadi medium yang membuat sejarah lebih menarik dan mudah dipahami generasi masa kini.

"Sehingga ketika ini diangkat menjadi film, tentu ini akan lebih menarik dan semua unsur-unsur nilai-nilai kepahlawanan, keteladanan, perjuangan, dan drama di sekitar perang mempertahankan kemerdekaan itu tetap semakin relevan," tutur Fadli.

Tujuh Film Panjang dan 13 Film Pendek Menang Sayembara

Kementerian Kebudayaan menetapkan tujuh pemenang film panjang, yakni "Barisan Penghibur", "Hoegeng: Yang Ada Tinggal Nama", "Rengasdengklok", "Kapalselam Kalibayam", "Sakura di Telawang", "Rai", dan "Pintu Tertutup".

Sebanyak 13 film pendek juga terpilih, yakni "Arang Kobar Juang", "Belantara Raya", "Buleun Purnama, di Nanggroe", "Darah Djoeang", "Desing Peluru Tak Bertuan", "Ibu Raih", "Jam 7 Pagi (Makassar, 1947)", "Menara Terakhir", "Operasi Malino: Lembar yang Hilang", "Seriboe Soedirman", "Suara Republik", "Timur 1950", dan "Yang Tenggelam Saat Fajar".

Program tersebut sebelumnya melalui tahapan peluncuran, sosialisasi, penerimaan proposal, seleksi administrasi dan substantif, presentasi atau pitching, hingga rapat pleno penjurian.

Sebanyak 143 proposal mengikuti sayembara dengan rincian 54 proposal film panjang dan 89 proposal film pendek yang melibatkan lebih dari 420 produser, sutradara, serta penulis naskah.

"Dan yang tak kalah penting, ini menunjukkan besarnya perhatian insan perfilman terhadap narasi perjuangan dan kepahlawanan bangsa dan komitmen menanamkan semangat kebangsaan, mempromosikan budaya dan juga sejarah kita," ujar Fadli.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026