
Pantau - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meluncurkan Nusantara Rising: Indonesia’s Collective Soft Power Movement sebagai gerakan kolaboratif untuk memperkuat pengaruh budaya Indonesia di tingkat global.
Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan Kadin Indonesia Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mengatakan inisiatif tersebut merupakan tindak lanjut dari Indonesia Soft Power Paper yang sebelumnya digagas Kadin bersama pelaku industri dan berbagai pemangku kepentingan.
"Dokumen ini adalah fondasi dan peta awal untuk bergerak bersama. Sebagai kelanjutan dari gagasan tersebut, hari ini Kadin Indonesia memperkenalkan Nusantara Rising: Indonesia's Collective Soft Power Movement," ungkap Rahayu Saraswati.
Kekayaan Budaya Didorong Menjadi Kekuatan Ekonomi
Rahayu Saraswati atau Sara mengatakan Indonesia memiliki modal budaya yang sangat besar dan beragam, mulai dari ribuan suku bangsa dan tradisi, ratusan bahasa daerah, hingga kekayaan cerita rakyat, musik, tari, kuliner, dan wisata.
Menurut Sara, besarnya kekayaan tersebut tidak secara otomatis menjadikan budaya Indonesia sebagai kekuatan yang mampu memberikan pengaruh di tingkat global.
Budaya, menurut dia, perlu dipandang tidak hanya sebagai warisan yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber daya yang mampu menciptakan daya tarik, daya cipta, nilai ekonomi, dan pengaruh Indonesia.
Dalam konteks tersebut, kebudayaan dinilai memiliki hubungan erat dengan pengembangan ekonomi kreatif yang dapat mengolah kekayaan budaya menjadi produk bernilai tambah.
"Di sini kebudayaan dan ekonomi kreatif bertemu. Ekonomi kreatif adalah mesin yang dapat mengolah kekayaan itu menjadi karya, produk, IP (kekayaan intelektual), lapangan kerja, ekspor, investasi, dan pertumbuhan ekonomi masa depan," kata Sara.
Pengembangan ekonomi kreatif dinilai dapat menghasilkan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP), menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan ekspor, menarik investasi, serta menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang.
Sara mengibaratkan budaya sebagai sumber daya, sedangkan ekonomi kreatif merupakan mesin yang menggerakkan dan mengolah sumber daya tersebut.
Jika dikelola secara strategis, kekayaan budaya Indonesia dinilai dapat berkembang menjadi mesin ekonomi sekaligus sumber pengaruh Indonesia di tingkat internasional.
"Soft power adalah daya pengaruh yang lahir ketika keduanya bergerak bersama secara strategis," ungkap Sara.
Sara yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi VII DPR mencontohkan Korea Selatan yang mengembangkan hallyu atau gelombang Korea, Jepang melalui Cool Japan, serta China dengan pendekatan cultural confidence.
Menurut dia, Indonesia perlu membangun strategi serupa agar kebudayaan nasional tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial atau dikenal di dalam negeri, tetapi mampu membentuk persepsi masyarakat dunia terhadap Indonesia.
Kadin Menginisiasi Komite Soft Power Indonesia
Dalam upaya tersebut, Kadin mendapatkan dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Ekonomi Kreatif untuk menginisiasi pembentukan Komite Soft Power Indonesia.
Komite tersebut dirancang sebagai wadah kolaborasi lintas sektor yang menghubungkan pemerintah, dunia usaha, pelaku budaya, kreator, akademisi, komunitas, media, serta mitra pembiayaan dan teknologi dalam satu ekosistem.
"Komite Soft Power Indonesia kami bayangkan sebagai ruang kolaborasi lintas sektor, sebuah wadah untuk menghubungkan semua pemangku kepentingan. Tujuannya bukan untuk menambah birokrasi, tujuannya adalah mempercepat orkestrasi," kata Sara.
Pembentukan Komite Soft Power Indonesia dengan demikian diarahkan untuk mempercepat koordinasi dan kolaborasi antarsektor, bukan menciptakan birokrasi baru.
Sara mengatakan Kadin selanjutnya akan menghimpun berbagai asosiasi yang bergerak di sektor budaya dan ekonomi kreatif untuk menyerap aspirasi sekaligus menjadi bagian dari penyusunan peta jalan Komite Soft Power Indonesia.
Kadin juga berencana menjajaki dukungan Kementerian Luar Negeri untuk memperkuat aspek diplomasi serta Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memperkuat ekosistem digital dalam pengembangan soft power Indonesia.
Industri Budaya Didorong Saling Terhubung
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia Shinta Kamdani mengatakan pendekatan pengembangan industri budaya perlu bergeser dari pola sektoral menjadi lebih sirkular dan saling terhubung.
"Selama ini film berjalan sendiri, gim berjalan sendiri, fesyen berjalan sendiri, kriya berjalan sendiri, padahal nilai yang sesungguhnya lahir justru ketika sektor-sektor ini saling menarik dan saling memperkuat sebagaimana telah dibuktikan Jepang, Korea Selatan, dan China," ungkap Shinta.
Menurut Shinta, sektor film, gim, fesyen, dan kriya yang selama ini cenderung berkembang secara terpisah berpotensi menghasilkan nilai lebih besar apabila saling terhubung dan memperkuat satu sama lain.
Model pengembangan lintas sektor tersebut dinilai telah diterapkan oleh sejumlah negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan China.
Dalam ekosistem itu, pemerintah memiliki peran menyediakan regulasi dan insentif yang mendukung perkembangan industri budaya dan ekonomi kreatif.
Dunia usaha memiliki peran menghubungkan berbagai lini industri, membangun rantai nilai, menghadirkan investasi, serta membuka akses pasar.
Melalui Nusantara Rising, Kadin mendorong orkestrasi lintas sektor agar kekayaan budaya dan industri kreatif Indonesia bergerak secara terintegrasi, menghasilkan nilai ekonomi, serta memperkuat pengaruh Indonesia di tingkat global.
- Penulis :
- Shila Glorya




