
Pantau - Komunitas Lab Teater Ciputat berhasil membawa cerita rakyat asal Sumatera Barat melalui pertunjukan "Malin Kundang Lirih" ke Korea Selatan dan meraih penghargaan Special Jury Award dalam ajang Playing Art and Doing Art Festival (PADAF) 2026 di Seoul.
Pertunjukan tersebut dipentaskan di Teater M, Distrik Gangnam, Seoul, pada Sabtu (31/10/2026), kemudian dilanjutkan dengan pementasan khusus bersama Seoul Factory for the Performing Arts di Teater Haddangse pada Selasa (3/11/2026).
Produser "Malin Kundang Lirih", Wulan Pusposari, mengatakan keikutsertaan dalam festival internasional tersebut merupakan bagian dari pengembangan program pembibitan, presentasi, dan distribusi karya seni yang telah dijalankan Lab Teater Ciputat.
"Partisipasi dalam PADAF merupakan bentuk prototipe terkait program Dapur LTC sebagai pembibitan, BUDAmFEST sebagai presentasi, kolaborasi bersama PADAF sebagai distribusi karya tersebut," kata Wulan dalam siaran pers Lab Teater Ciputat di Jakarta, Minggu (8/11/2026).
Penghargaan Special Jury Award diberikan oleh dewan juri PADAF 2026 atas pementasan "Malin Kundang Lirih" yang menghadirkan interpretasi cerita rakyat Indonesia melalui pendekatan seni pertunjukan.
Malin Kundang Angkat Kehidupan Perantau Minangkabau
Karya "Malin Kundang Lirih" mengangkat realitas kehidupan laki-laki Minangkabau dalam tradisi merantau melalui pendekatan antropologis.
Pertunjukan tersebut menggambarkan berbagai pengalaman yang berkaitan dengan harga diri, kegagalan, rasa malu, serta kerinduan terhadap ibu dan kampung halaman.
Cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Barat itu dihadirkan melalui pendekatan artistik yang menggali pengalaman dan persoalan dalam kehidupan perantau.
Pementasan di Korea Selatan sekaligus menjadi kesempatan bagi Lab Teater Ciputat untuk memperkenalkan karya seni pertunjukan Indonesia kepada penonton internasional.
Kolaborasi Seniman Indonesia dan Korea Selatan
Wulan menjelaskan keikutsertaan "Malin Kundang Lirih" dalam PADAF 2026 tidak terlepas dari dukungan Direktur Seoul Factory for the Performing Arts sekaligus Ko-Direktur Artistik PADAF, Hyoung-taek Limb.
Hyoung-taek Limb sebelumnya menyaksikan pementasan karya tersebut dalam Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) yang diselenggarakan Lab Teater Ciputat di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, pada 2025.
Setelah menyaksikan pertunjukan tersebut, ia memberikan rekomendasi agar "Malin Kundang Lirih" tampil dalam penyelenggaraan PADAF ke-16 di Korea Selatan.
"Apresiasi Hyoung-taek Limb membuka peluang bagi hubungan kreatif yang lebih luas antara seniman Indonesia dan Korea. Selain pertunjukan, kemungkinan kerja sama lanjutan, seperti lokakarya dan kegiatan kolaboratif, turut menjadi bagian dari peluang pengembangan," kata Wulan.
Kolaborasi tersebut berlanjut melalui keterlibatan Hyoung-taek Limb sebagai ko-sutradara dalam pementasan kedua "Malin Kundang Lirih" di Teater Haddangse pada 3 November 2026.
Pementasan itu juga melibatkan sejumlah seniman Korea Selatan, yakni Choi Minhyeok sebagai penari, Yoon Kyungro sebagai gitaris, dan Yu Juhyoun sebagai penyanyi pansori.
Kehadiran para seniman tersebut mempertemukan praktik seni pertunjukan Indonesia dengan ekspresi artistik dari latar budaya Korea Selatan.
PADAF Buka Ruang Pertukaran Seni Internasional
PADAF merupakan festival seni tahunan yang telah diselenggarakan sejak 2010 dan pada 2026 memasuki penyelenggaraan ke-16.
Festival tersebut berfokus pada pengembangan ruang bagi seniman internasional untuk mengeksplorasi bentuk artistik lintas disiplin tanpa dibatasi genre tertentu.
Keikutsertaan Lab Teater Ciputat menjadi bagian dari upaya memperluas jaringan distribusi karya seni pertunjukan Indonesia melalui festival internasional.
Wulan menilai apresiasi terhadap "Malin Kundang Lirih" membuka kesempatan untuk mengembangkan hubungan kreatif antara seniman kedua negara.
Peluang kerja sama tersebut mencakup kegiatan lokakarya serta berbagai bentuk kolaborasi artistik pada masa mendatang.
Melalui pementasan dan penghargaan yang diperoleh di Seoul, Lab Teater Ciputat memperluas kesempatan bagi karya seni berbasis cerita rakyat Indonesia untuk menjangkau penonton internasional.
- Penulis :
- Gerry Eka




