
Pantau - Kebiasaan sering memeriksa ponsel dan menggulir layar tanpa henti dapat berkembang menjadi kecanduan yang berdampak pada kesehatan mental dan kualitas hidup.
Dampak Kecanduan dan Pola Perilaku
Lebih dari setengah populasi dilaporkan terjebak dalam kebiasaan scrolling dan mengecek notifikasi secara berulang.
Nadia Addesi menjelaskan kecanduan terjadi ketika otak bergantung pada ponsel untuk menghindari rasa tidak nyaman seperti stres, kebosanan, atau kesepian.
Ia mengatakan, "Ponsel menjadi cara tercepat untuk menghadapi stres, kebosanan, atau kesepian. Semakin besar rasa lega yang diberikan, semakin otak bergantung padanya,"
Kebiasaan ini dapat menjadi refleks otomatis, seperti membuka ponsel saat bekerja, sebelum bangun tidur, atau ketika sedang berbicara dengan orang lain.
Pengguna juga dapat merasa cemas saat ponsel tidak berada di dekatnya akibat efek dopamin yang memicu ketergantungan.
Dampaknya meliputi penurunan fokus, gangguan tidur, kelelahan fisik, hingga menurunnya empati dan kualitas hubungan sosial.
Cara Mengurangi Ketergantungan
Untuk mengurangi kecanduan, pengguna disarankan menjauhkan ponsel saat bekerja atau berinteraksi dengan orang lain.
Menghadapi rasa bosan tanpa langsung membuka ponsel juga menjadi langkah penting dalam melatih kontrol diri.
Selain itu, penggunaan ponsel setelah bangun tidur sebaiknya dihindari agar otak tetap fokus.
Strategi lain meliputi memindahkan aplikasi, menggunakan mode grayscale, serta membatasi akses media sosial.
Nadia menyarankan pembatasan penggunaan media sosial maksimal 30 menit per hari selama 14 hari.
Ia mengatakan, "Membatasi media sosial hingga 30 menit per hari selama dua minggu terbukti meningkatkan suasana hati, motivasi tidur, fokus, kepuasan hidup,"
Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat perubahan suasana hati, energi, dan fokus setelah periode tersebut.
Secara keseluruhan, pengurangan paparan layar dinilai mampu meningkatkan kesehatan mental, fokus, dan kualitas hidup.
- Penulis :
- Gerry Eka





